Distrik Kota: Pasar Gede dan Denyut Nadi Wong Solo

Tampak depan bangunan dengan atap Limasan

Bicara soal Pasar Gede Hardjonagoro atau yang kerap dikenal dengan Pasar Gede, seakan membangkitkan memori tentang masa kecil saya. Setiap kali pulang ke kota Solo, berkunjung ke tempat ini merupakan agenda yang wajib untuk dilakukan, meskipun hanya sekadar membeli buah tangan ataupun menikmati sajian kuliner disana. Sedari dulu, saya memang memiliki ketertarikan untuk mengunjungi pasar-pasar tradisional di Jawa. Terekam jelas di ingatan saya, pagi itu situasi di Pasar Gede sangatlah ramai. Rentetan becak dan penyedia jasa panggul telah bersiap di halaman pasar untuk melayani para pembeli. Lokasi Pasar Gede yang terletak di pusat kota dan berdekatan dengan Balaikota Surakarta memudahkan akses para pengunjungnya dari banyak penjuru. Memasuki pintu gerbang utama, hiruk pikuk interaksi antara para pedagang dan pembeli kian terasa. Banyak orang bersliweran kesana-kemari mengunjungi kios-kios yang tersedia untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang masih segar.

Pintu masuk utama dengan jendela besar sebagai ventilasi udara

Saya pun tergerak memasuki bagian yang lebih dalam, ternyata situasinya tidak jauh berbeda. Saya dapat mendengar seorang ibu menjajakan dagangannya berupa barisan teh-teh cap jadul yang sudah mulai sulit dijumpai. “Monggo mas, badhe tumbas menapa? Niki enten teh cap gopek, dandang, nyapu, sintren…”, pungkasnya. Pasar Gede sendiri menjual berbagai macam kebutuhan sembako, buah-buahan, sayur mayur, bumbu rempah, perabotan dapur hingga aneka jamu dan minuman herbal racikan tradisional. Tak hanya itu, banyak orang datang kesini untuk mencicipi beragam sajian kuliner khas Solo yang tersebar di segala penjuru pasar. Mulai dari nasi liwet, cabuk rambak, pecel ndeso, timlo hingga aneka olahan daging babi dari para penjual keturunan etnis Tionghoa di sudut-sudut pasar. Selain itu, sajian pencuci mulut yang berupa es dawet telasih dan gempol plered menjadi primadona masyarakat.

Salah satu gerai es dawet yang menjadi primadona

Di emperan pasar, dapat dijumpai pula para penjual sate kere (olahan berbahan gajih dan jeroan). Mereka adalah perempuan berusia lanjut dengan tampilan memakai kebaya dan kain jarik dengan sebuah tungku kecil untuk membakar sate yang menjajakan dagangannya secara lesehan di sekitaran kompleks pasar. Satu hal yang membuat Pasar Gede selalu ramai dikunjungi adalah varian jajanan pasarnya yang sangat kaya, bahkan sudah mulai sulit dijumpai. Masyarakat Solo kerap kali menyebutnya dengan lenjongan yang terdiri atas klepon, jenang krasikan, wajik, gethuk, gathot, tiwul, grontol dan masih banyak lagi. Lantas, bagaimana Pasar Gede bertransformasi menjadi sebuah sentra perekonomian yang pesat di kota Solo?

Deretan penjual makanan di dalam pasar

Pasar memiliki kedudukan yang sangat penting, terutama dalam kota-kota di Jawa. Surakarta terbentuk berlandaskan fondasi kosmologi Jawa yang tercermin dari struktur ruang kotanya dengan menerapkan konsep Catur Gatra Tunggal. Hal tersebut ditandai dengan berdirinya bangunan keraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai simbol suara rakyat, masjid sebagai pralambang peribadatan serta pasar sebagai sarana penghidupan ekonomi lokal dan terciptanya budaya sosial masyarakat (Herlambang, Suharto, dkk, 2017). Keberadaan Pasar Gede tidak terlepas dari peran masyarakat keturunan Tionghoa yang telah mendiami kawasan di sebelah timur Sungai Pepe tersebut sedari kota Surakarta didirikan pada tahun 1745 oleh Sri Susuhunan Pakubuwono II (Adi, Hardiyati & Aliyah, 2019).

(atas) olahan ikan yang sudah diasinkan. (bawah) penjualan rempah-rempah yang masih segar

Awalnya, pasar ini bernama Pasar Gede Oprekan yang identik dengan payung-payung peneduh di sekeliling area tersebut dikarenakan belum memiliki bangunan permanen. Atas prakarsa dari Sri Susuhunan Pakubuwono X di tahun 1927, beliau berniat untuk merehabilitasi seluruh kawasan pasar dengan mendirikan sebuah bangunan permanen yang megah. Seorang arsitek Belanda yang bernama Thomas Karsten dipercaya untuk merancang keseluruhan bangunan pasar. Karsten sendiri dikenal sebagai arsitek yang ulung karena telah berhasil mendirikan beberapa bangunan penting di Jawa seperti Pasar Johar di Semarang, Stasiun Balapan Solo hingga kompleks perumahan elite di Kotabaru Yogyakarta. Pembangunan pun diresmikan pada tanggal 12 Januari 1930 oleh sang Sunan sendiri dengan menghabiskan dana sekitar 650.000 Gulden dan menjadi pasar bertingkat pertama di Surakarta (Aliyah, Daryanto & Rahayu, 2007).

Salah satu sudut bangunan bertingkat di area pasar

Penamaan Pasar Gede dikaitkan karena areanya yang luas serta bentuk bangunannya yang besar layaknya benteng. Sementara itu, nama Hardjonagoro juga disematkan karena beliau merupakan seorang keturunan Tionghoa yang mendapat gelar kehormatan dari Keraton Surakarta sebagai Kanjeng Pangeran Haryo Hardjonagoro (Harsasto, 2018). Sebuah tugu peringatan berdirinya pasar ini dibangun tepat di depannya yang dilengkapi dengan sebuah jam besar, sehingga banyak orang menyebutnya sebagai Tugu Ngejaman. Pasar Gede juga dikenal sebagai sebuah artefak sejarah arsitektur yang bersifat monumental karena mampu menggabungkan elemen budaya Jawa yang terlihat dari bentuk atap limasan seperti dalam rumah Joglo serta sentuhan kolonial di dalamnya. Hal tersebut dapat dijumpai dari kerangka langit-langit pasar yang terbuat dari besi dan baja serta banyaknya jendela dan pintu besar yang mengelilingi—layaknya bangunan pada gedung-gedung pemerintahan di masa kolonial. Sang arsitek juga menciptakan deretan lubang ventilasi di sekitar bangunan untuk menjaga sirkulasi udara, sehingga kemudian dikenal sebagai teknologi AC tradisional.

Tugu Ngejaman

Selama ratusan tahun, hadirnya sebuah permukiman warga etnis Tioghoa bernama Sudiroprajan di sekitaran area pasar mampu menciptakan sebuah narasi toleransi dengan para masyarakat Jawa pada umumnya. Semua elemen tampak melebur menjadi satu, seakan hal tersebut telah melekat dalam diri identitas mereka. Pasar Gede menjadi sebuah bukti dimana gejala melting pot antar etnis maupun lapisan sosial masih terjaga hingga kini. Hal tersebut juga dapat dilihat dari tempat-tempat ibadah yang letaknya berdekatan dengan pasar yaitu, Masjid, Klenteng Tien Kok Sie serta Gereja Katolik St. Antonius. Rasa kebersamaan antar masyarakatnya juga tercermin dari sebuah perayaan Imlek bertajuk Grebeg Sudiro. Upacara Grebeg memang identik dengan kebudayaan Jawa yang biasanya dilakukan untuk memperingati hari-hari besar agama Islam yang dimeriahkan dengan kirab gunungan dari hasil bumi. Masyarakat Pasar Gede (terutama Sudiroprajan) kemudian menggabungkannya dengan memasukkan elemen budaya Cina yaitu gunungan kue keranjang, festival barongsai dan gugusan lampion. Acara ini menjadi sebuah pengingat bahwa meskipun berasal dari etnis yang berbeda, namun budaya Jawa tetap mengalir dalam darahnya.

Salah satu sudut bagian dalam pasar

Pasar Gede bukanlah sembarang pasar, namun selalu menyimpan cerita-cerita tersembunyi yang menyiratkan makna mendalam. Di era global yang identik dengan gemparan modernisasi dan teknologi terdepan, tidak membuat pasar tradisional sirna begitu saja. Pasar Gede merupakan sebuah harta budaya yang harus dirawat keberadaannya, sebab masih menjadi penopang hajad hidup orang banyak. Kedudukannya tidak hanya sebatas pembangkit perekonomian belaka, namun dapat menghidupkan nilai-nilai budaya di dalamnya. Sebuah tempat dimana nyala api kearifan lokal terus hidup, dimulai dari kultur perdagangannya hingga menjadi preservasi kuliner tradisional yang mulai langka. Menyusuri lorong-lorongnya yang penuh sesak seakan berjalan menembus lorong waktu, dimana rasa saling memiliki dan keterikatan batin senantiasa tumbuh di kalangan masyarakatnya. Pasar Gede selalu memiliki tempat di hatinya wong Solo dan kelestariannya tak akan lekang oleh waktu.

Suasana pasar yang tampak ramai, terlihat pula kemegahan langit-langit atap dari baja

“Pasar Gede merupakan sebuah permata kecil di kota Solo, tidak hanya menjadi penggerak ekonomi lokal namun menyimpan sejuta cerita tentang toleransi, sejarah, petualangan rasa hingga ikatan batin masyarakat di dalamnya”

– Raditya Baswara, Juni 2020;

Referensi

Ayu Fibramantya Adi, H. &. (2019). Dinamika Relasi Sosial dalam Aktivitas Kirab Budaya Grebeg Sudiro. Cakra Wisata, 20(1), 1-9.

Harsasto, P. (2018). Strategi Pembangunan Kota Berbasis Budaya: Revitalisasi Pasar Gede di Kota Surakarta. Jurnal Ilmu Politik, 9(1), 35-46.

Istijabatul Aliyah, T. J. (2007). Peran Pasar Tradisional dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata di Kota Surakarta. Gema Teknik, 111-118.

Rudy W. Herlambang, M. S. (2017). Pengenalan Cagar Budaya Pasar Gede Harjonagoro Surakarta Bagi Generasi Muda Melalui Video Time Lapse. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya, 2(2), 130-141.

Tentang Penulis

Raditya Baswara, Antropologi 2018. Seorang fotografer amatiran yang gemar berkelana sembari menulis tipis-tipis. Suka menyelami isu-isu seputar budaya, seni, bisnis, arsitektur hingga makanan. Saat ini sedang menjadi kepala publikasi rubrik Cergas dan menggarap proyek sampingan “makan & makna”—sebuah catatan perjalanan kuliner melalui kanal Instagram @makanbermakna. Feel free to contact me through email (raditbaswara@gmail.com) or Instagram (@raditbswra). Cheers!