Who Says Lovin’ is a Sin?

Pergulatan Sukar Dalam Menegosiasikan Hasrat dan Iman

Sumber foto: Kumparan

Pada bulan April 2019 lalu, saya dan seorang teman menyempatkan diri bolos kelas untuk menonton film Ave Maryam yang sedang diputar di bioskop-bioskop komersial setelah melanglangbuana dari satu festival ke festival lainnya. Film ini, bagi saya, pada satu sisi terasa sebagai satu tarikan napas segar: kapan lagi saya bisa melihat representasi kelompok agama minoritas hadir dalam layar lebar? Di sisi lain yang lebih personal, film yang penuh dengan aspek emosional ini terasa sebagai “pecutan” yang agak menyakitkan karena mengingatkan saya pada fenomena-fenomena yang sudah terlalu biasa hadir dalam kehidupan sehari-hari: momen-momen ketika keinginan personal kita berbenturan dengan nilai moral dalam agama.

Ave Maryam, secara singkat, bercerita tentang seorang biarawati bernama Maryam yang diberi “ujian” dan dituntut untuk menghadapinya selama mengabdi memenuhi panggilan Tuhan. Perjalanan emosional dan spiritualnya kemudian digambarkan dengan apik sepanjang film—membuat orang-orang yang menontonnya, setidaknya saya, keluar dari ruang pemutaran dengan kepala yang penuh pertanyaan dan, secara mengejutkan, kegetiran.

Ave Maryam: Kisah Seorang Biarawati yang Diuji

Film Ave Maryam besutan Robby Ertanto ini berpusat pada kisah seorang biarawati bernama Maryam (Maudy Koesnadi), yang menghabiskan sebagian besar waktunya mengurus biarawati-biarawati senior nan sepuh di pastoran, tahun 1998 di Semarang. Tugas-tugasnya termasuk memandikan, menyiapkan makan, menyelimuti mereka di ranjang malam-malam, dan secara umum memastikan mereka baik-baik saja. Hari-hari Suster Maryam berjalan secara rapi, teratur, dan bahkan cenderung sunyi—sampai Romo Yosef (Chicco Jericko) kemudian datang dan membuat kehidupannya jungkir balik.

Sampai di sini, premis cerita menjadi menarik. Dalam Katolik, seseorang yang sudah bersumpah menjadi suster dan romo juga menghidupi tiga kaul (kaul kemurnian, kaul ketaatan, dan kaul kemiskinan) yang mengharuskannya melepaskan diri dari ikatan-ikatan dan persoalan duniawi untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada Tuhan, gereja, dan umat—termasuk tidak menikah dan berkeluarga. Pilihan yang juga disebut sebagai hidup selibat ini jelas membutuhkan komitmen dan ketetapan hati yang luar biasa, dan inilah yang coba diulik Ertanto dalam Ave Maryam.

Kedekatan Maryam dan Yosef berlangsung secara perlahan-lahan karena Maryam terus-menerus ketakutan dan menarik diri. Sikap ini tentu dapat dimengerti karena ia memiliki tanggung jawab yang begitu besar dan tidak bisa begitu saja memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan matang. Meskipun demikian, pada akhirnya Maryam luluh dan mereka kemudian mulai sering bertemu. Hubungan ini mencapai puncaknya pada kencan mereka di pantai (yang dalam pemutarannya di bioskop digambarkan hanya sampai Maryam menurunkan risleting belakang gaunnya), dan baru setelah itu kenyataan bahwa ia telah berbuat “dosa” menghantam Maryam begitu kuatnya. Apa yang terjadi setelah itu adalah pergulatan Maryam yang tercabik di antara kebahagiaan personal dan kewajibannya terhadap Tuhan, gereja, dan umat. Dibenturkan dengan ujian-ujian yang membuatnya mengalami badai spiritual berulang kali, pada akhirnya Maryam harus menerima kenyataan bahwa seringkali kebahagiaan personal kita tidak dapat berjalan berdampingan dengan keinginan untuk menjadi taat.

Ave Maryam, seperti produk-produk budaya populer lainnya, pastilah meninggalkan ruang interpretasi bagi para penikmatnya. Ada yang menganggap Ave Maryam film yang berkisah tentang “cinta terlarang”, namun bagi saya pribadi Ave Maryam adalah kisah tentang spiritualitas itu sendiri. Sebelum hubungan Maryam dan Yosef menjadi fokus utama dalam film, Maryam sudah lebih dulu digambarkan sedang “berperang” dengan naluri-naluri manusiawi dalam waktu-waktu yang ia habiskan sendirian, jauh dari mata-mata yang penasaran. Ia membaca buku tentang seksualitas di kamarnya malam-malam, misalnya, atau bermimpi sedang bersusah-payah menutup jendela dari laut yang berderu, yang seringkali dijadikan metafora untuk gelora nafsu—dalam alkitab, Leviathan dan monster-monster serupa digambarkan datang dari laut (Adam, 2019).

Selain metafora laut, Ertanto juga menyisipkan beberapa simbol berbau biblikal lain dalam film. Salah satu yang paling jelas tentu penamaan karakter utama—Maryam dan Yosef—yang jelas berakar pada kisah Bunda Maria dan Yosef dalam alkitab. Kisah yang sarat akan simbol teologis ini juga dipenuhi pertanyaan-pertanyaan serupa, dan pada akhirnya memantik diskusi tentang fenomena yang sudah menjadi realita sehari-hari ini.

Persimpangan Si Saleh dan Si Pendosa

Dalam Between Religion and Desires: Being Muslim and Gay in Indonesia, Tom Boellstorff mengulas tentang kegamangan menjadi seorang gay Muslim di Indonesia. Bagaimana mungkin seseorang bisa dianggap Muslim jika ia memiliki orientasi seksual yang jelas-jelas dilarang dalam agama? Pertanyaan yang begitu keras dan menohok itu menjadi pusat pembahasan dalam artikel tersebut, yang secara dalam menggambarkan kesukaran emosional para gay Muslim ini dalam “melabeli” diri mereka sendiri.

Label identitas, tentu saja, adalah produk konstruksi sosial yang punya banyak campur tangan manusia di dalamnya, tapi memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap suatu komunitas atau golongan tertentu adalah sesuatu hal yang saya kira amat personal. Kemampuan—atau, yang menyakitkan, ketidakmampuan—kita untuk mengafiliasi diri dengan golongan-golongan tertentu ini menjadi bukti bahwa kita “diterima” dan punya hak yang sama dengan anggota-anggota lainnya di dalam golongan tersebut.Masalahnya, bagaimana jika kedua bentuk identitas yang berinterseksi dalam diri seorang individu ini juga, secara alamiah, saling beroposisi?

Menjadi seorang biarawati adalah pilihan, dan mengikuti keinginan hati untuk menjalin hubungan romantis memiliki konsekuensinya sendiri untuk Maryam—namun, bagi para gay yang menjadi fokus dalam penelitian Boellstoff, seksualitas mereka adalah sesuatu yang hadir secara alamiah dan tidak dapat diubah. Jika cara mereka mencintai saja sudah dilaknat, barangkali menegosiasikan identitas dan iman akan menjadi sesuatu problema yang jauh lebih runyam.

Membicarakan kepercayaan—utamanya dalam agama-agama samawi seperti Katolik dan Islam—tentu tidak bisa dilepaskan dari pembahasan tentang konsep dosa.Seperti pahala, surga, dan neraka, dosa adalah instrumen penting dalam pengimplementasian agama. Dalam banyak cara, dosa juga berperan sebagai “garis polisi” yang menjaga para pengikutnya dari berbuat jahat dan biadab. Aturan-aturan ilahiah ini, pada akhirnya, membuat manusia tiba pada satu persimpangan yang mengharuskannya memilih untuk menjadi saleh atau pendosa.

Persimpangan ini tentu saja pernah hadir dalam jalan hidup semua orang. Meskipun bisa jadi tidak sekolosal kisah hidup Suster Maryam, pada akhirnya kita akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan itu:apakah salah? Apakah boleh? Apakah aku akan masuk neraka? Pertanyaan-pertanyaan yang terasa familiar ini pasti pernah mampir dalam benak semua orang, dan saya pun sempat berada dalam periode di mana saya merasakan kebimbangan dan ketakutan yang amat dalam ketika akan berbuat “dosa”.Bagi saya, periode itu kini sudah selesai. Namun, bagi orang-orang lain yang menjadikan agama sebagai pedoman utama, periode menyesali dosa ini barangkali akan berlangsung sepanjang hidup mereka.

Mempertanggungjawabkan Keimanan di “Pengadilan” Sosial

Jika pergulatan emosional dalam menegosiasikan hasrat dan iman masih belum cukup berat, hal ini pun turut diperburuk dengan penilaian dari masyarakat. Sudah sempat disinggung di atas bahwa label identitas adalah salah satu bentuk konstruksi sosial, dan norma serta nilai yang berlaku di suatu masyarakat akan memengaruhi pula bagaimana perilaku-perilaku tersebut diterima (atau tidak diterima) dalam standar sosial. Terkadang yang menjadi masalah bahkan bukan datang dari diri sendiri, melainkan bersumber dari cercaan orang lain

“Apa yang kita bicarakan ketika kita membicarakan agama?”tanya Geertz dalam suatu tulisannya, dan saya kira kita semua pun sama bingungnya. Seperti The Religion of Java yang dua dari banyak pembahasannya adalah praktik membaca Qur’an dan partai politik, agama itu sendiri terdiri atas begitu banyak fragmen dan aspek yang membuatnya begitu sukar untuk digambarkan dalam satu definisi pendek (Geertz, 2005). Agama pada akhirnya menjelma sesuatu yang secara bersamaan bersifat sangat personal namun juga sangat terpengaruh struktur sosial.Apa yang sewajarnya adalah urusan dapur masing-masing rumahpun harus ditabrakkan pada konsekuensi-konsekuensi yang amat publik dan terbuka.

Saya kira, keterpesonaan umat manusia pada kekuatan ilahiah dan sesuatu yang lebih besar dari kita semua adalah hikayat yang selamanya tidak akan pernah usai dibahas. Agama dengan luwes telah termanifestasi menjadi tempat pulang, sumber pengharapan, panduan hidup, dan begitu banyak hal lainnya—sehingga dapat dimengerti bahwa pembahasan tentangnya pun tidak akan pernah selesai.Mempelajari agama, utamanya dalam konteks antropologi, bukanlah tentang seberapa berimannya kamu atau agama apakah yang baik dan benar.Mempelajari agama berarti melacak posisinya dalam peradaban manusia dan bagaimana itu berkelindan dalam hidup kita.

Dalam lagu Sacred Heart yang menjadi original soundtrack dari film Ave Maryam, The Spouse menyanyikan sepenggal lirik yang mendengarnya sampai sekarang masih membuat saya merinding: who says lovin’ is a sin? Film Ave Maryam dan tulisan Boelstorff menampilkan upaya-upaya anak manusia menentukan batas dan jalan hidupnya sendiri, tapi saya juga berharap bahwa ini bisa menjadi pengingat untuk terus mawas diri di tengah-tengah kondisi sosio-kultural Indonesia yang agaknya semakin intoleran ini.

Pada akhir hari, penting untuk diingat bahwa dosa maupun amalan baik pada awalnya adalah urusan-urusan personal seorang hamba dengan Tuhannya, dan barangkali kita harus membiarkannya demikian. Seperti apa yang dikatakan seorang suster senior kepada Maryam sepulangnya ia dari pantai,“Jika surga saja belum pasti untukku, buat apa nerakamu menjadi urusanku?”

Referensi:

Adam, A. (2019). Ave Maryam: Krisis Iman Biarawati dalam Pusaran Cinta Terlarang.Tirto.ID.

Boellstorff, T. (2005). Between Religion and Desire: Being Muslim and Gay in Indonesia. American Anthropologist 107(04), 575-585.

Geerts, C. (2005). Shifting Aims, Moving Targets: On the Anthropology of Religion. The Journal of the Royal Anthropological Institute, 11(1), 1-15.

Penulis

Sarah Wisista

Mahasiswi S1 Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada. Tertarik dengan kajian budaya populer, gender, dan religiusitas. Gemar membaca, menulis, dan mereka-reka masa depan lewat ramalan bintang. Cerpen, esai, dan pemikiran-pemikirannya di kala senggang dapat dikunjungi di sjeramany.wordpress.com.