‘Item Number’ di Bollywood: Memotret Ironi Perlakuan Terhadap Perempuan di India

Tangkapan layar Nora Fatehi, aktris Bollywood,
dari sebuah video item number berjudul Saki Saki dalam film Batla House (2019)

Sulit rasanya memisahkan Bollywood dengan lagu dan tarian, seperti hendak menyeduh kopi tanpa air. Kedua hal tersebut selalu menjadi bagian penting tersendiri di industri perfilman India ini. Bahkan dapat dikatakan sudah menjadi tradisi pada sejarah perkembangannya. Akan tetapi, pada kenyataannya, tradisi tersebut justru telah memunculkan hal yang problematis. Kenyataan tersebut muncul disebabkan oleh keberadaan item number atau item song pada sebagian besar film-film Bollywood.

Istilah item number tersebut biasa digunakan untuk mendeskripsikan sebuah lagu dengan tempo up-beat dan catchy tune yang ditampilkan dengan tarian dengan koreografi menarik di film-film Bollywood sebagai taktik untuk menarik audiens film yang lebih luas. Suatu item number akan menampilkan satu orang perempuan (biasa disebut sebagai item girl) yang melakukan tarian koreografi tersebut—biasanya merupakan seorang aktris terkenal—yang menjadi cameo appearance pada film, khusus dalam durasi item number tersebut saja.

Item number juga tidak bisa dipisahkan dari konteks ‘seksualitas’. Sebab, dalam lirik, koreografi, pakaian, sampai setting dari item number dapat dipastikan tidak jauh-jauh dari hal tersebut. Sebagian besar item number selalu menampilkan suggestive lyrics, racy moves, pakaian-pakaian yang menampilkan tubuh sang aktris, dan berlatar tempat di sebuah bar atau nightclub untuk menampilkan suasana yang lebih sesuai.

Namun, mengapa hal ini justru memunculkan hal yang problematis? Apakah perempuan tidak diperbolehkan bernyanyi dengan lirik menggoda, memakai pakaian terbuka, dan menari dengan seksi di tengah-tengah bar? Apa tulisan ini hendak menghakimi perempuan-perempuan yang mengekspresikan seksualitasnya? Tidak, tulisan ini tidak berusaha untuk menghakimi perempuan sama sekali.

Sebagai seseorang yang pernah berada pada tahap tersebut, pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di kepala saya sepanjang saya memikirkan untuk menulis mengenai topik ini. Tidak ada salahnya sama sekali bagi perempuan yang mengekspresikan seksualitasnya. Namun, bukan itu yang menjadi permasalahannya. Titik problematis yang hendak saya bahas di sini adalah bagaimana fitur item number dalam film-film Bollywood justru menampilkan ironi perlakuan yang diterima oleh perempuan-perempuan di India. Alih-alih memiliki karakter yang fearless, kuat, dan lincah seperti para perempuan di ­item numbers, para perempuan di kehidupan asli India justru hanya merasakan diskriminasi terus-terusan secara masif.

Diskriminasi di Bollywood: Objek Seksual, Pay Gap, dan Pelecehan Seksual

Fenomena item number masih menjadi problematis akhir-akhir ini. Sebab terkadang dengan lirik yang terlalu vulgar, gerakan yang terlalu racy, dan pakaian yang terlalu terbuka, alih-alih berhasil menunjukkan bahwa tidak tabu lagi perempuan mengekspresikan seksualitasnya, justru lebih terlihat bahwa perempuan sedang di-oversexualized. Tidak jarang, pada shots dalam item number, yang diambil oleh kamera justru pada bagian-bagian tubuh perempuan, seperti pinggul, dada, betis, bahkan sampai lengan dan jari-jari. Apalagi dengan ditambah adanya kerumunan figuran laki-laki yang berada di sekitarnya. Hal ini semakin membuat tidak nyaman beberapa orang yang menontonnya, terutama para perempuan. Mereka sudah menjadi objek seksual di kehidupan nyata, namun masih diobjektifikasi di sarana hiburan mereka juga.

Walaupun begitu, item number masih menjadi hal favorit di kalangan perfilman India. Fenomena ini masih sering digunakan untuk para sineasnya sebagai strategi pemasaran untuk meningkatkan jumlah audiens mereka. Bahkan pada film horror-comedy, Stree (2018), yang digadang-gadang sebagai film feminism yang menyenangkan, tetap tidak bisa dihindarkan dari diskriminasi terhadap perempuanatas perlakuan objektifikasi pada item song berjudul Kamariya yang ditampilkan oleh aktris Nora Fatehi.

Tangkapan layar Nora Fatehi, aktris Bollywood, dari sebuah video item song berjudul Kamariya dalam film Stree (2018)

Apabila perempuan di item number digambarkan sebagai perempuan yang kuat—bahkan kadang ditampilkan dalam keadaan merokok dan berkata kasar—maka karakter yang dimainkan oleh pemeran utama perempuan pada film justru sebaliknya. Mereka digambarkan sesuai dengan “perempuan pada umumnya” di India; lemah, tidak berbicara kasar, selalu menurut, jarang berbicara. Keadaan tersebut terpatri jelas pada film Kabir Singh (2019). Salah satu film yang rilis baru-baru ini, mendapatkan banyak sindiran karena pemeran utama wanitanya dianggap tidak memiliki porsi (dialog) yang banyak—sebagai film romansa, seharusnya porsi adegan dan dialog kedua pemeran utama seimbang. Bahkan banyak yang menjadikannya lelucon bagaimana Preeti, nama peran utama perempuan di film tersebut, merupakan representasi dari keadaan perempuan di India; tidak memiliki “suara”.

Jomplang-nya karakter dari aktor dan aktris dalam film kemudian mempengaruhi perbandingan hasil pendapatan yang diterima antara aktor dan aktris. Aktor jauh mendapatkan pendapatan lebih banyak. Menurut Forbes, aktris Deepika Padukone mendapatkan hasil $1,8 juta untuk film Bajirao Mastani (2015), sedangkan aktor Shah Rukh Khan mendapatkan $38 juta untuk film Dilwale (2015). Masih belum ada aktris yang bisa menandingi pendapatannya sampai saat ini. Padahal kala itu, Deepika Padukone merupakan aktris yang berada pada urutan pertama dengan pendapatan tertinggi.

Setelah di-oversexualized, diberi pendapatan rendah, para aktris Bollywood kemudian harus dihadapkan oleh kemungkinan terjadinya pelecehan seksual di lingkungan kerja mereka. Beberapa aktris sudah melakukan konfirmasi bahwa memang pelecehan seksual benar terjadi. Mereka mengatakan bahwa casting couch banyak dilakukan di balik perfilman Bollywood. Aktris lain yang juga mengonfirmasi hal ini adalah Kangana Ranaut. Ia bahkan dengan lantang ikut mendukung salah satu survivor yang telah dilecehkan oleh sutradara kenamaan Vikas Bahl. Fakta bahwa keduanya, Ranaut dan Bahl, pernah bekerja dalam satu film yang melejitkan nama keduanya, tidak membuat Ranaut menutup mulut mengenai kejadian tersebut.

Radhika Apte, seorang aktris Bollywood, mengatakan pada BBC India mengenai adanya“the culture of silence” di Bollywood. Dengan stardom dan fandom yang begitu besar dimiliki oleh para sineas laki-laki di sana, banyak pekerja film perempuan yang memilih bungkam. Jika tidak, maka sama saja dengan suicide career. Hal ini menunjukkan bagaimana diskriminasi terhadap perempuan benar-benar menguat di India. Seakan-akan perlakuan yang pelecehan seksual tidak cukup kejam, perempuan juga harus berhadapan lagi dengan kekuatan laki-laki yang mendominasi lingkungannya.

Diskriminasi di Masyarakat: Dari Cara Berpakaian Sampai Pelecehan Seksual

            Seperti kebanyakan negara-negara lainnya dengan lingkungan masyarakatnya yang konservatif, masyarakat India memiliki aturan-aturan tersendiri yang harus ditaati oleh para perempuan di India apabila ingin dianggap sebagai a good decent Indian woman. Perempuan yang baik harus selalu berada di rumah, pandai memasak, tidak berada di luar rumah saat malam hari, harus berpakaian tertutup, dan lain sebagainya.

            Apabila di item number, perempuan ditampilkan dengan pakaian seksi, maka sesungguhnya yang terjadi pada perempuan di India justru sebaliknya. Menggunakan pakaian dengan potongan terbuka sedikit saja akan menjadi permasalahan. Tidak hanya caci-makian, nilainya sebagai perempuan juga akan berkurang. Ruchika Tulshyan (2014), seorang perempuan keturunan India yang menjadi salah satu kontributor Forbes, juga mengonfirmasi hal ini—bagaimana ketika dirinya mengunjungi keluarganya di Mumbai, ia harus secara ekstra memperhatikan cara berpakaiannya.

            Dalam item number, sering juga didapati bagaimana perempuan, sang aktris, menari dengan dikerumuni oleh para figuran laki-laki yang sedang menatapnya. Tanpa keraguan, ia akan menari dengan tatapan tajam yang sesekali mengarah ke kamera dengan ekspresi wajah yang kuat. Tidak jarang juga terjadi kontak fisik yang disengaja dengan aktor utama yang memang juga tampil di dalam item number tersebut, seperti merangkul atau mencium.

Tangkapan layar Katrina Kaif, aktris Bollywood, dari sebuah video item number berjudul Chikni Chameli dalam film Agneepath (2012)

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh para perempuan India di dunia nyata. Apabila sedang berada pada kerumunan yang didominasi oleh keberadaan laki-laki, para perempuan tersebut akan merasa ketakutan dan ingin cepat-cepat segera keluar dari kondisi tersebut. Kerumunan laki-laki menjadi hal yang ditakuti oleh para perempuan di India disebabkan oleh fakta bahwa pelecehan seksual baik verbal maupun non-verbal muncul dari mereka. Apabila perempuan di item number merasa kuat dan aman berada di kerumunan laki-laki, maka hal sebaliknya justru dirasakan oleh para perempuan di masyarakat India.

Hal yang menyedihkan lagi, pelecehan-pelecehan yang dilakukan oleh kerumunan laki-laki ini justru “dimotivasi” oleh keberadaan item numbers tersebut. Seperti yang ditunjukkan pada video kompilasi berjudul No Country for Women yang diunggah di Youtube dengan akun channel bernama serupa, banyak dari laki-laki yang mengatakan bahwa mereka “terinspirasi” dari apa yang mereka tonton di film—hal ini merujuk pada fitur item number dalam film yang bersangkutan. Hal ini semakin menyedihkan melihat fakta bahwa menurut data yang dilansir oleh National Crime Record Bureau, terjadi pemerkosaan setiap 20 menit di India.

Bollywood and India: Two sides of the same coin

            Bollywood dengan item numbers-nya telah berhasil menunjukkan reverse condition yang dialami oleh perempuan di India. Kebebasan dan kekuatan yang dimiliki oleh perempuan-perempuan dalam item numbers hanya menjadi bayang-bayang bagi perempuan di dunia nyata. Mereka harus menerima fakta bahwa tidak ada lampu dan kamera yang menyorot ke arahnya. Bollywood, yang menjadi sarana hiburan mereka, telah bertransformasi menjadi mesin pencetak mimpi mereka. Namun, Bollywood pun juga dunia nyata. Sejauh apapun perbedaan India dan Bollywood, keduanya merupakan dua sisi dari koin yang sama. Setelah kamera berhenti menyorot, para perempuan di Bollywood harus segera kembali ke “India” dan bersiap menghadapi perlakuan seperti apa lagi yang harus mereka terima dari dunia nyata. Namun, mereka tetap akan bergerak pelan, tapi pasti. Seberapa kuat mereka menahan arus diskriminasi, bergantung dari seberapa kuat mereka melawannya.

Referensi:

“No Country For Women”. Nocountry for Women. https://www.youtube.com/watch?v=Rt1Rhd_sRhg&t=615s

“The Bollywood Diva Song feat. Kangana Ranaut.” All India Backchod. https://www.youtube.com/watch?v=a9ggjCbv5ck

D’Cunha, Suparna Dutt. “In India, the Gender Pay Gap Extends even to Bollywood.Forbes. https://www.forbes.com/sites/suparnadutt/2017/08/30/in-india-the-gender-pay-gap-extends-even-to-bollywood.

Bollywood Hungama News Network. “Radhika Apte boldly REVEALS about sexual harassment in Bollywood” Bollywood Hungama. https://www.bollywoodhungama.com/news/bollywood/radhika-apte-boldly-reveals-sexual-harassment-bollywood.

Web Editor. April 20, 2015. “A Feminist Critique on Item Numbers in Bollywood Films”. AMS Sexual Assault Support Centre. https://amssasc.ca/a-feminist-critique-on-item-numbers-in-bollywood-films.

Tulshyan, Ruchika. April 19, 2014. “How Bollywood Failing the Women of India”. Forbes. https://www.forbes.com/sites/ruchikatulshyan/2014/04/19/how-bollywood-is-failing-the-women-of-india.

Editor. “100 Rules to Follow If You Want To Be A Good Decent Indian Woman”. Asia Net News. https://newsable.asianetnews.com/india/100-rules-to-follow-if-you-want-to-be-a-good-decent-indian-woman.

Penulis

Adinda Dwi Safira

her/she. mahasiswi tingkat kedua yang seperti bukan mahasiswa tingkat kedua. disturbingly enthusiast at almost everything, including films, series, you name it. suka meracau (kadang mengumpat juga) tidak jelas di akun Twitter @iamdindadwi dan inactively writing some rubbish short stories di iamdindadwi@wordpress.com. feel free to visit!