MENYUSURI SOSROWIJAYAN: MENEMUKAN TEMPAT TUMBUH DAN BERKEMBANG DI TENGAH PASAR KEMBANG

Jalan Sosrowijayan, atau yang lebih dikenal dengan Pasar Kembang atau Sarkem, adalah sebuah tempat yang (kita sama-sama tahu) terkenal sebagai lokalisasi. Berdasarkan informasi yang beredar bahwa Sarkem telah ada sejak tahun 1818 dan kegiatan prostitusi sudah ada sejak zaman Belanda. Area ini secara sengaja dirancang untuk lokasi “jajan” para pekerja proyek pembangunan rel kereta api (Fauzi, 2018). November 2019 lalu, saya bersama kedua teman saya, Ulima Nabila Adinta dan Alysia Noorma Dani tertarik untuk mengulas tempat ini untuk tugas akhir mata kuliah Pengantar Antropologi semester satu. Berbekal rasa penasaran tinggi, jadilah kami bertiga menyusuri Jalan Sosrowijayan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya kondisi daerah ini.

Gang Sosrowijayan II

Jalan Sosrowijayan yang terletak di depan Stasiun Yogyakarta sesungguhnya berupa gang-gang kecil namun berkelok seperti labirin. Di dalamnya terdapat banyak losmen, wisma, maupun penginapan-penginapan kecil lainnya serta beberapa biro travel untuk ke beberapa destinasi wisata seperti Kaliurang, Borobudur, Prambanan, dan lainnya yang ada di Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Selain penginapan dan biro travel kami juga menemukan beberapa cafe, kebanyakan berada di gang Sosrowijayan II. Menurut beberapa narasumber, losmen, wisma, dan lain sebagainya adalah usaha milik warga lokal karena kampung ini kerap menjadi tujuan wisata dan penginapan turis lokal maupun asing karena letaknya yang strategis.

Balai RW yang juga difungsikan sebagai taman kanak-kanak

Ada hal menarik yang saya dan Nabila temukan di tengah Sosrowijayan ini. Beberapa warga mengarahkan kami menuju sebuah pintu abu-abu dengan hiasan warna-warni tergantung di atasnya, membuat kami tertarik untuk masuk ke dalamnya. Ternyata pintu itu adalah sebuah ruangan Balai RW yang juga difungsikan sebagai taman kanak-kanak. Kami disambut oleh Bu Ina, salah seorang guru di TK itu. Bu Ina menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami untuk masuk. Bu Ina bercerita banyak hal mengenai TK tersebut. Mulai dari siswanya yang berjumlah hampir lima puluh, sampai cerita-cerita mengenai anak-anak yang telah lulus dari TK itu. Seperti TK pada umumnya, kegiatan yang berlangsung adalah kegiatan belajar yang dikemas dengan menyenangkan. Beberapa karya siswanya terpajang di dinding-dinding TK, membuat kami paham bahwa suasana belajar di TK ini cukup ‘hidup’.

Dari Bu Ina, kami pun mengetahui bahwa ada kebiasaan dan peraturan tidak tertulis bahwa selama kegiatan TK berlangsung (sekitar pukul 8 pagi sampai 12 siang) tidak ada pekerja seks yang melakukan aktivitas di luar rumah dengan pakaian terbuka. Hal ini sebagai bentuk kompromi yang dilakukan warga dan bentuk saling menghormati akan kegiatan yang dilakukan satu sama lain. Seakan sudah terjadwal, jam pagi sampai siang adalah jam anak, lalu jam berikutnya sampai pagi menjelang adalah jam orang dewasa. Obrolan dengan Bu Ina berlangsung seru dan menyenangkan sampai-sampai kami terpaksa harus menghentikannya karena Bu Ina memiliki kegiatan lain yang harus dilakukan. Bu Ina berpesan jangan ragu untuk main lagi ke sini (TK itu), namun jangan terlalu lama berkeliling di sana (Pasar Kembang) yang kami sambut dengan tawa.

Mungkin apa yang kami dapat bukanlah apa yang sedari awal kami cari. Tetapi dari perjalanan ini, kami pun sadar akan eksistensi sebenarnya dari Jalan Sosrowijayan atau Pasar Kembang. Pasar Kembang bukan hanya sekadar tempat yang dipenuhi “kembang”, namun juga sebagai tempat tumbuh dan berkembang. Bukan hanya sekadar lokalisasi, namun juga sebagai tempat warga berinteraksi dan saling menghormati.

Referensi:

  1. Fauzi, Y. (2018). Pendidikan Karakter di Kawasan Beresiko Prostitusi Pasar Kembang: Studi Kasus di

TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta. Jurnal Kebijakan Pendidikan, 7 (3), 345. Retrieved from http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/sakp/article/view/13092

Penulis

Afifah Golda | S1 Antropologi Budaya 2019

A smol seed that strolls around Soegondo 5th to learn humans, half sunflower half wallflower. Usually throws some stuff on her Instagram @afifahgolda or reach her out via email afifahgolda@gmail.com.