Darurat Iklim: Word of the Year dan Momentum Dekade

Darurat iklim itu climate emergency, dan kata ini menjadi Oxford Word of the Year 2019. Oxford Dictionaries mengumumkan ini pada akhir tahun 2019, dan vibe terhadap darurat iklim belum hilang—justru bertambah, maka pada awal 2020 manusia bisa menyambut momentum dekade baru dengan kedaruratan iklim. Sekian, mungkin judul sudah terjelaskan.

***

Seperti halnya post-truth sebagai kata tahun 2016, atau lebih jauh selfie pada 2013, kata itu makin dikenal pada tahun berikutnya. Tetapi tampaknya dan harusnya persoalan iklim bukan hal baru, kita telah belajar mengenai iklim sejak sekolah dasar, dan mengenal istilah ‘perubahan iklim’. Sederhananya iklim adalah keadaan cuaca dalam jangka panjang pada wilayah yang luas, dan keadaan ini telah berubah dari sebelumnya. Tidak lupa, sebabnya adalah aktivitas manusia.

Cukup serius tetapi ini adalah esai bercerita (dan mungkin kajian media). Yaitu dimulai dari cerita ketika saya duduk belajar di SD, ketika beberapa materi sudah menyangkut tentang perubahan iklim dan pemanasan global, guru saya berkata, “Jadi makin banyak kendaraan akan berakibat kemacetan, dan itu mengakibatkan…”

Saya bergumam saja menebak, “…banyak polusi dan menyebabkan pemanasan global,” tetapi ternyata tidak.

Lanjutan guru saya, “pengendara sulit untuk berlalu lintas.” Baiklah, ini sedang tidak membahas iklim, jadi tidak melebar dari masalah kendaraan dan lalu lintas. Mungkin saya terlalu sering mendengar cerita ibu saya ketika berada di negara empat musim, bahwa pada masa ia dulu pun salju sudah tidak selalu turun tiap musim dingin. Juga cerita mengenai masanya yang ketika bilang ‘adem’ itu benar-benar adem, dan pada masaku ini ademnya pun lebih panas. Ketika itu bahkan belum 2010.

Bapak saya tidak kalah suka cerita, sering mengatakan bahwa perubahan iklim telah terjadi, musim kemarau dan hujan tidak lagi berotasi pada April dan Oktober, seringkali terlambat atau bahkan tidak jelas. Hujan seringkali terlalu lama maupun kemarau terasa sangat panjang. Mungkin menurut bapak saya cerita ini relevan, karena saya pasti mempelajari rotasi musim di sekolah, maka saya paham mengenai April dan Oktober.

Saya mempelajari lagi bahwa ada yang namanya ozon, ada di lapisan atmosfer, ia melindungi bumi dari radiasi matahari. Namun, juga akibat polusi, lapisan itu makin menipis dan bisa jadi terbuka seluruhnya. Ketika itu saya berpikir, jika akan terbuka seluruhnya apa dampaknya? Kata ibu saya itu juga yang menyebabi cuaca sekarang makin panas: lapisan ozon sudah banyak yang bolong.

Cerita dan pengalaman adalah pergumulan akar rumput. Setiap orang mungkin memiliki ceritanya sendiri. Tingkat keseriusannya bisa kita lihat dengan melebarkan konteks kepada yang lebih luas. Sehingga apakah benar kebanyakan orang merasa hari-hari makin panas dan itu disebabi oleh manusia? Dalam ranah disiplin ilmu tentang manusia, perubahan iklim bukan bagian yang terpisahkan. Antropologi ekologi pun membahas mengenai timbal balik antara perilaku manusia dengan keadaan lingkungan, di mana Julian H. Steward membuat pernyataan yang utuh mengenai bagaimana interaksi kebudayaan dan lingkungan dapat dianalisis dalam kerangka sebab-akibat (Ahimsa-Putra, 1994). Atau buku Anthropology and Climate Change (2009), kumpulan tulisan etnografi dengan gejala respons terhadap perubahan iklim.

Maka kajian perubahan iklim bukan hal baru. Tetapi mungkin sejauh itu persoalan iklim belum mendesak. Hingga Greta Thunberg memulai protesnya di Swedia pada Agustus 2018, mogok sekolahnya seakan menjadi perwakilan kesadaran kaum muda. Tren berlanjut dengan mengglobalnya gerakan Fridays for Future dengan climate strike-nya, hingga Extinction Rebellion, gerakan senada yang bermula di Inggris. Skalanya sudah mencapai tingkat internasional, berawal dari negara maju. Dengan strike dan rebellion, sekolah dan kerja dirasa sepadan ditinggalkan, untuk terus mendeklarasikan isu darurat iklim. Climate strike termassal dunia terjadi pada 20 September 2019 lalu.

Diskursus iklim pun meluas ke isu lainnya. Menyusul climate strike dan kembali soal momentum, International Day of Peace 2019 (21 September) lalu mengangkat tema “Climate Action for Peace”, juga menyambut momentum UN Climate Action Summit pada 23 September (juga ajang Greta untuk menyampaikan orasinya). Greta pada pertemuan tersebut kembali menyuarakan memburuknya ekosistem dan awal dari kepunahan massal. Selesai itu, tahun tetap berjalan dan momen pergantian dekade tiba. Akun Instagram UN Environment Programme (UNEP) sudah ikut mengunggah foto bertulisan, “Don’t call it change, call it climate emergency” pada 29 Desember 2019, mengakhiri tahun. Dan mengawali dekade, UNEP menetapkan 2010-an sebagai the lost decade of climate action, yang mana tidak ada aksi signifikan untuk mengurangi emisi global, seperti dilansir The Japan Times.

***

Tetapi tidak. Awal tahun 2020 dunia harus diganggu oleh Corona (virus SARS-CoV-2, penyakit Covid-19), dan dunia akan mengingat ini dikarenakan statusnya yang menjadi pandemi. Tiap negara yang terpapar menetapkan status darurat atau melakukan segala upaya yang mengorbankan keberlangsungan banyak hal, menjadikan salah satu respons terbesar yang memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Corona bisa menjadi momentum, penyadaran kepada dunia tentang kondisi darurat di awal dekade ini, atau justru setelah mereda prioritas kembali kepada ekonomi.

Atau bahkan virus SARS-CoV bermutasi jadi ada SARS-CoV-2 ada hubungannya dengan perilaku manusia? Ya ini bukan tulisan dan kajian genetik. Ini tulisan bulan Maret. Tema World Water Day tahun ini, 22 Maret, adalah “Water and Climate Change”.

Bacaan

Jurnal Ilmiah

Ahimsa-Putra. “Antropologi Ekologi” dalam Jurnal Masyarakat Indonesia Jilid XX No. 4, 1994. Jakarta: LIPI.

Nadzir, Ibu. “Membaca Perubahan Iklim Melalui Bingkai Antropologi” dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 14 No. 3, 2012. Jakarta: LIPI.

Media Daring

“Don’t repeat the lost decade of climate action”. https://www.japantimes.co.jp/opinion/2020/01/23/editorials/dont-repeat-lost-decade-climate-action/#.XnXkTJkxU2w

“Extinction Rebellion London protest: 290 arrested”. https://www.bbc.com/news/entertainment-arts-47945397

“Greta Thunberg dan Gerakan ‘How Dare You’ yang Mendunia”. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190925110259-134-433769/greta-thunberg-dan-geraman-how-dare-you-yang-mendunia

“Why don’t we treat the climate crisis with the same urgency as coronavirus?” https://www.theguardian.com/commentisfree/2020/mar/05/governments-coronavirus-urgent-climate-crisis

“Word of the Year 2019”. https://languages.oup.com/word-of-the-year/2019/


Penulis:

Abiyyi Yahya Hakim
abiyyi.yh@gmail.com (Gmail)
Abiyyi Yahya Hakim (Facebook)
abiyyi_yh (Instagram)
abiyyiyh.blogspot.com (Blogspot)

Mahasiswa antropologi, suka melihat masyarakat mengambil gambar dan makna darinya, untuk dibagikan lagi. Rutin menulis di blog, Instagram adalah wadah pengunggahan stok foto yang bagus, dan unggahan sesuai momen ada di Facebook.