Bakso Tikus di Utan Kayu: Representasi Kompleksitas Pemaknaan Simbol Di Jakarta

Tulisan ini akan berangkat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) 22 Jakarta.  Terletak di daerah Utan Kayu, merupakan sekolah negeri yang terkenal dengan julukan riverside. Julukan tersebut disematkan karena letak sekolah yang berada di depan sungai (apabila mengacu pada nama julukannya) namun sesungguhnya sungai tersebut hanyalah sebuah selokan berdiameter kurang lebih 1 meter. Hal tersebut membuat “julukan” dalam praktiknya bisa dimaknai dan digunakan sebagai sesuatu yang mendegradasi atau membanggakan manusia yang identitas sosial nya SMA 22 (mengacu pada siswa disana). Perkara tadi saya intensikan untuk mengungkapkan secara kecil pergulatan, kontestasi, dan tumpang tindihnya produksi dan konsumsi pemaknaan simbol di Jakarta. Sebagaimana dimengerti, berdasarkan Geertz (1973) kebudayaan terbangun dari berbagai macam simbol yang terdapat dan dimaknai oleh manusia. Simbol, yang dengannya manusia berkomunikasi, melanggengkan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang dan sikap terhadap kehidupan. Simbol tersebut mengacu pada berbagai macam unsur kehidupan kita yang kita maknai, meliputi ideologi, konsep, benda atau apapun yang kita maknai. (Geertz, 1973) Kepadatan, heterogenitas, dan perihal sejarah telah membuat Jakarta dipenuhi oleh simbol, yang ketika diberikan perhatian eksplisit akan menimbulkan paradoks karena berlimpahnya simbol-simbol itu sendiri (Nas, 1992)

Alasan saya memulai dari SMA 22 bukan karena saya sekolah disana. (saya sekolah di SMA 31, tidak jauh dari sana) tetapi karena tepat di seberang selokan yang berhadapan persis dengan SMA 22, terdapat tempat makan (bakul) bakso yang cukup besar. Dua tahun lalu, tempat makan itu didatangi oleh aparat polisi. Alasan kedatangan itu karena adanya laporan bahwa bakso yang dijual dibuat dari daging tikus. Selain karena tikus, perihal menarik terhadap fenomena ini adalah bukan karena reaksi akan massa yang penuh amarah melainkan karena tidak adanya hal seperti itu.

Teman baik saya, yang berdomisili di Utan Kayu, namanya Apis, hadir saat operasi yang dilakukan oleh polisi. Dia menjelaskan bahwa pada saat itu, sekitar jam 10 pagi, polisi datang, menggrebek, mendapati dua karung berisi kepala-kepala tikus, kemudian membawa penjual ke kantor polisi. Massa yang menyaksikan hanya berasal dari toko-toko di sejajarannya. Setelah perisitiwa itu toko tersebut ditutup. Namun dua minggu kemudian pemilik kembali berjualan (kali ini menggunakan daging sapi). Walaupun hadir stigma buruk namun perihal tersebut hanya mempengaruhi kemampuan daya saing ekonomi penjualan bakso. Tidak ada ancaman, hujatan, atau makian yang dilayangkan kepada keluarga pemilik. Seolah perbuatan tersebut dikompromi oleh masyarakat dengan wacana “khilaf” atau memang karena tidak peduli. Bahkan sampai sekarang, berdasarkan kata Apis, warung tersebut masih buka dan lumayan laku walaupun tidak seramai ketika menjual daging tikus.

Reaksi “kondusif” masyarakat terkait kontroversi sebenarnya bukan hanya perkara tidak peduli. Penjual bakso yang terkenal agamis dan dermawan di mata warga sekitar, ketidaktahuan konsumen akan kontroversi karena kebanyakan berasal dari luar Utan Kayu, sikap polisi yang memberikan akses kepada pemilik toko untuk berjualan lagi, harga bakso yang murah dan membuat para pelanggan menyalahkan diri mereka sendiri, serta kemacetan yang senantiasa mereka hadapi ketika bermobilitas sehingga membuat waktu istirahat menjadi sempit. Semua hal tersebut menjadi wacana yang muncul pada pertimbangan masyarakat untuk mengkompromi dan tidak memunculkan unsur kekerasan pada fenomena “bakso tikus” ini.

Peristiwa ini, serupa pada gagasan mengenai SMA 22, memberikan gambaran kecil bagaimana sistem kebudayaan masyarakat dibangun oleh bentuk dan pemaknaan simbol yang sangat beragam. Salah satu wujud kecilnya pemaknaan terhadap “bakso tikus” itu sendiri yang tidak serta merta berlanjut pada diskursus mengenai moralitas yang berorientasi pada kekerasan. Pemaknaan simbol ini cenderung memberikan asumsi bahwa masyarakat Jakarta, dalam konteks Utan Kayu itu sendiri, hidup dalam sistem kebudayaan yang berbeda-beda. Antara Apis dan tetangganya saya amati juga mempunyai tatanan norma yang berbeda. Maka rasionalisasinya pun akan beragam. Mengklasifikasikan masyarakat Jakarta sebagai entitas yang memiliki karakteristik bodoh, tidak peduli, toleran, sibuk, agamis, kapitalis ataupun yang lainya mungkin benar tapi tidak mengembangkan pemahaman kita terhadap mereka. Namun dengan mempertimbangkan bahwa karakteristik tersebut hadir karena situasi pemaknaan simbol yang kompleks dalam kondisi sosial budaya sedemikian rupa, bisa memberikan ruang bagi pemahaman mendalam tentang masyarakat Jakarta itu sendiri.

Pada akhirnya apabila diindahkan Apis akan menjadi co-writer dalam tulisan. Pemikiranya tidak dapat dipungkiri merupakan sebagian besar argumen dalam tulisan ini. Apis itu sendiri juga menjadi contoh gambaran masyarakat Jakarta. Tumbuh di daerah yang tumpang tindih, dimana bahasan lokal, nasional bahkan internasional hadir dalam wacana keseharian membuat rasionalisasinya menjadi unik, kompleks serta terkadang menggelitik. Untuk menaruh konteks, daerah Utan Kayu itu sendiri bukan merupakan sebuah tempat terisolasi, melainkan bentuk pemukiman “normal” di Jakarta, tempat dimana rumah megah dan bobrok berdempetan di gang jalan setapak, angkot ngetem di jalan dua arah yang sempit, pedagang-pedagang kaki lima yang mengokupasi jalan pejalan kaki, tiga masjid dengan aliran islam yang berbeda dan berbagai macam hal lainnya. Tidaklah cukup melukiskan gambaran ruang Utan Kayu dalam satu tulisan singkat seperti ini.   Sudah dua tahun saya tidak ke Utan Kayu, dan mungkin sudah banyak yang berubah. Namun hal tersebut bisa menjadi benang merah penelitian di daerah Jakarta. Komplektisitas produksi dan pemaknaan tentang apa yang harus dimaknai (simbol) di Jakarta menuntut pemahaman mengenai masyarakatnya tidak dapat disematkan oleh seorang antropolog hanya pada dasar suatu sistem kebudayaan yang kaku dan bersifat satu kesatuan. Mungkin apabila dilukiskan, kajian fungsional-struktural mengenai sebuah fenomena sosial masyarakat urban di Jakarta, terutama Utan Kayu, akan terlihat seperti lukisan-lukisan nya Jackson Pollock.

Bacaan

Nas, Peter J.M. “Jakarta, City Full of Symbols: An Essay in Symbolic Ecology.” Sojourn: Journal of Social Issues in Southeast Asia, vol. 7, no. 2, 1992, pp. 175–207. JSTOR, www.jstor.org/stable/41056849. Accessed 20 Mar. 2020.

Geertz, C. (2008). The Interpretation Of Cultures. Hachette UK.

Penulis:

M Affan Asyraf
affanasyrat (instagram)
affanasrop (twitter)

Mahasiswa antropologi budaya UGM angkatan 2018. Kalau di Jakarta dipanggil Affan, di Jogja dipanggil Asyraf/Asrop. Lahir di Cikarang tapi saat remaja pindah ke Jakarta. Ketika SMA sekolahnya berjarak 24 KM dari rumah (Jagakarsa-Utan Kayu) karena nem UN SMP kecil.