Hikayat Pengendara Kadut: Melacak Kelakuan Orang Medan di Jalan Raya

Foto: https://pasangmata.detik.com/contribution/327406


An interesting and implicit reference to traffic’s significance in the everyday production of the city can also be found in a statement by a leading scholar of urban theory:  arguing that we not only individually and collectively make the city, but ‘in return, the city makes us’, Harvey (2003: 939) poses the following question: ‘Can I live in Los Angeles without becoming a frustrated motorist?’” (Berna Yazıcı, 2013)

Jika saya diminta mendefinisikan kondisi jalan raya Medan dalam satu kata, saya akan dengan tegas menyebutkan kata “kadut”. Saya tidak ingat persis pada momen apa kata kadut ini tercetus, yang jelas saya mendapatkannya melalui sirkulasi kata-kata slang dalam pergaulan sehari-hari di kota Medan. Kadut, menurut saya, adalah istilah yang begitu sedap untuk dipakai menilai perilaku (seseorang atau kelompok) atau kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Maksudnya begini, anggap saja kita sedang melihat dua angkot saling balap-balapan di jalan raya yang sedang padat-padatnya untuk memperebutkan penumpang. Mereka tak menghiraukan apa pun. Bahkan, lampu merah diterabas begitu saja. Nah, saya akan dengan enteng mengatakan kalau dua angkot itu kadut! Karena mereka melakukan hal aneh yang semestinya tak perlu dilakukan.

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di kota Medan, saya sudah terlalu akrab dengan kondisi lalu-lintas jalan raya di kota ini. Semula, semua ini saya anggap hanyalah hal biasa. Pengendara sepeda motor saling pacu mendahului, bahkan hingga menggunakan trotoar yang semestinya diperuntukkan untuk pejalan kaki. Mereka barangkali terburu-buru, pikir saya. Namun, seiring bertambah besar dan benih-benih pemikiran yang sepertinya agak-agak revolusioner mulai tumbuh di kepala, saya menyadari bahwa lalu-lintas di kota kelahiran saya ini sangatlah bermasalah. Saya belum menemukan–karena saya tak punya uang cukup untuk mengelilingi kota-kota lain di Indonesia—atau bahkan mendengarkan ceritera dari teman-teman sejawat terkait kondisi lalu-lintas di kota mereka yang kondisinya sebelas-duabelas dengan Medan. Di Yogyakarta sendiri misalnya, tempat saya berkuliah, lalu-lintasnya saya kira bagus-bagus saja. Tak terdengar bunyi klakson saling bersahutan ketika berada di jalan raya. Ketika lampu sedang merah, pengendara patuh dan berhenti. Barangkali hanya di Medan sajalah lalu-lintasnya memiliki keunikan yang tak bisa dicari padanannya di kota-kota lain–dan karena itulah kutipan di atas saya sertakan. 

Tipikal Para Pengendara

Beberapa bulan lalu—bertepatan dengan momentum lebaran—saya pulang ke Medan. Saya tak perlu menerka, kondisi lalu lintasnya masih serupa. Pada jam-jam sibuk—saat pekerja, pedagang, pelajar pulang dan pergi ke tempat yang dituju—badan jalan dipenuhi berbagai kendaraan. Pada waktu ini, pembagian badan-badan jalan menjadi tidak berguna sama sekali. Trotoar yang semestinya diperuntukkan buat pejalan kaki, menjadi tempat lintasan tercepat sepeda motor.[1] Pengemudi dengan lincah meliuk-liuk di antara lapak bongkar-pasang pedagang kaki-lima dan sesekali menyerempet tubuh pejalan kaki. Di perempatan, marka atau rambu jalan tak bermakna apa pun. Pengendara yang berniat belok ke kiri tidak bisa langsung jalan karena tertahan oleh pengendara lainnya yang berhenti di jalur kiri menanti lampu setopan berubah hijau.

Dalam banyak kejadian, lampu setopan tidak berarti apa-apa. Warna merah bagi warga kota Medan bukan tanda harus berhenti. Perempatan jalan selalu dapat menjadi lokasi strategis untuk mengamati perangai manusia yang menerobos lampu merah. Orangtua saya dengan penuh kelakar mengidentifikasi jenis manusia penerobos lampu merah ini dalam empat kategori. Pertama, mereka menerobos karena buta warna (cacat) yang tidak bisa membedakan hijau, kuning, dan merah. Kedua, mereka ini adalah manusia berwatak jahat, karena perilaku menerobos lampu merah nyata-nyata membahayakan orang lain dan diri sendiri. Ketiga, mereka adalah warga kota yang benar-benar tolol (bebal) yang tidak pernah mau mengerti bahwa warna merah adalah isyarat kendaraan harus berhenti. Keempat, inilah kategori orang Medan yang sok jago dan menganggap dirinya paling hebat, untuk itu orang lain harus toleran, takut, dan mengalah padanya.

Menerobos lampu merah, melaju di trotoar, dan perilaku tak beradab sejenis menjadi makin unik karena dilakukan pengendara dari berbagai strata sosial. Perilaku tak beradab ini dipertontonkan oleh warga yang berseragam maupun tidak. Dari anak sekolah, pramuka, anggota ormas, aparat keamanan, sampai pegawai instansi pemerintah dengan kendaraan berplat merah. Dari yang terkesan kere berbaju dekil dengan bersepeda motor butut, hingga yang parlente lengkap dengan jas-dasi bermobil mewah. Dari pengemudi angkutan umum seperti becak motor, angkutan kota (angkot), sampai bus-bus besar. Dari warga kampung kumuh di tepi sungai hingga warga kampus yang mengaku terpelajar. Juga oleh warga yang masih berwajah imut-imut hingga yang bertampang pikun. Semua perilaku tak beradab dalam berlalu-lintas ini amat mudah ditemukan di setiap ruas jalan Kota Medan. Ketidakberadaban yang mencerminkan rendahnya kesadaran berkendara warga kota ini, pada gilirannya, akan bermuara pada masalah-masalah lain. Sebut saja kemacetan, polusi, dan tentu saja kecelakaan yang berujung kematian.

Kredit dan Habitus Salah Kaprah

Perilaku aneh ketika berkendara terjadi di sebuah ruang atau infrastruktur fisik bernama jalan raya. Jalan raya menjadi ruang interaksi manusia-manusia yang tak saling kenal namun memiliki kepentingan sama, yaitu sesegera mungkin mencapai tujuan.[2] Barangkali, karena ingin cepat-cepat sampai di tujuan masing-masing, banyak pengguna jalan di kota Medan berlaku seenak dan semaunya sendiri. Perilaku kolektif nan salah kaprah ini menjadi pemandangan lumrah dan kian membudaya karena jalan raya di kota Medan menjadi ajang bagi para pengguna jalan mempertontonkan perilakunya. Maka, saya kira, perilaku-perilaku yang sangat membahayakan di jalan raya itu telah menjadi habitus bagi banyak pengguna jalan di kota Medan. Habitus adalah pengetahuan praktis dari agen mengenai cara melakukan sesuatu, merespons situasi, dan memahami apa yang terjadi.[3] Habitus adalah nilai-nilai sosial yang dihayati oleh manusia, dan tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama, sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri manusia.[4]

Habitus lahir dari pembiasaan individu dalam interaksinya dengan dunia dan manusia lain. Dunia manusia, selain dunia fisik dan biologis, adalah juga dunia bersama. Pertemuan individu dengan unsur dunia fisik, biologis, dan sosial menghasilkan jejak-jejak pengaruh dalam diri yang saling berinteraksi dan beradu pengaruh dengan kesadarannya sebagai subjek. Dalam pembiasaan itu, berbagai ‘perlengkapan’ (jenis kendaraan, kuasa, dsb) digunakan, dikuasai secara terampil dan diinternalisasi ke dalam diri individu. Perlengkapan itu lama-kelamaan dihayati sebagai bagian dari diri;[5] yang diinternalisasi dari waktu ke waktu; serta terus terjadi melalui berbagai proses imitasi, asosiasi, abstraksi, dan identifikasi. Setiap ‘perlengkapan’ yang diinternalisasi berinteraksi dengan perlengkapan-perlengkapan lain dan menghasilkan pengaruh tertentu (misalnya: kemacetan, polusi, dan kecelakaan) dengan cara-cara tertentu pula.[6]

Kondisi jalan raya yang semrawut ini saya kira merupakan sebuah mata rantai dari multisektor kehidupan suatu negara. Kemacetan dan kesemrawutan merupakan wajah pemerintah yang tidak dapat menyediakan alat transportasi umum yang nyaman, aman, tepat waktu, dan dengan tarif terjangkau. Memang, kehadiran Angkutan Kota (angkot) menjadi alternatif bagi warga Medan yang tak memiliki kendaraan pribadi. Namun sayangnya, angkot justru dikenal sebagai transportasi publik yang suka melaju sembarangan. Sangat mudah menemukan angkot yang saling kebut-kebutan di tengah padatnya lalu-lintas demi memperebutkan seorang penumpang. Pemandangan yang juga tak asing ketika mendapati suatu angkot berhenti sembarangan di tengah-tengah jalan sehingga mengakibatkan kemacetan panjang. Karena itu, menjadi sebuah kewajaran apabila jalan raya disesaki kendaraan pribadiseperti mobil yang hanya diisi satu orang—karena transportasi publik tak dapat memenuhi harapan.

Padatnya jalan raya oleh kendaraan pribadi juga merupakan penanda kuatnya kepentingan individu memperoleh kepuasan. Kepentingan ini kian mudah terwujud karena difasilitasi oleh produsen kendaraan bermotor yang aktif dengan inovasi, sales yang ramah, bujukan cicilan murah, dan iklan kreatif untuk menjaring pelanggan baru. Setiap tahun, muncul berbagai jenis motor dan mobil baru yang terus merayu. Hitungan keberhasilan dilihat dari banyaknya kendaraan yang berhasil dijual dan produksi terus digiatkan secara gila-gilaan. Maka, produsen pun berlomba-lomba menjual produknya dan membanjiri jalan raya. Sayangnya, keberhasilan penjualan ini tak disertai dengan edukasi, upaya pembelajaran terhadap penggunaan kendaraan. Keberhasilan penjualan justru bertemu dengan habitus pengguna jalan yang amat membahayakan. Dan peningkatan jumlah kendaraan pribadi (mobil dan motor) yang didorong oleh kredit terjangkau memastikan bahwa konsumerisme berlebihan telah menjadi gaya hidup yang serius.

Masyarakat Tak Peduli Resiko

Selain menjadi ruang tempat beradunya habitus dari setiap pengendara, jalan raya juga menjadi simbol dari kekuasaan negara, modernitas, dan kemajuan yang signifikan.[7] Keberadaan lampu Apill, marka jalan, dan polisi lalu-lintas semakin mempertegas kuasa negara di jalan raya. Namun, dengan habitus pengguna jalan yang seperti itu, kehadiran negara seolah-olah tak terasa di jalan raya. Jalan raya malah menjadi arena kontestasi kekuasaan sekaligus unjuk eksistensi antar pengguna jalan. Ini dimungkinkan karena jalan raya adalah ruang publik yang memungkinkan bertemunya pengguna jalan lintas kelas sekaligus kuasa negara. Negara berupaya menertibkan, sementara pengguna jalan melanggar aturan. Yang paling membahayakan dari kekacauan seperti ini tentu adalah kecelakaan yang berujung kematian. Data[8] menunjukkan jumlah kecelakaan yang terjadi di jalan raya kota Medan meningkat setiap tahunnya. Dan dari sejumlah kecelakaan itu, kesalahan manusia (human error) menjadi penyebab terbesar. Artinya, kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalan raya lebih dikarenakan kesalahan pengguna kendaraan yang sesungguhnya dapat dicegah. Dengan kata lain, penyebab utamanya tak lain dan tak bukan adalah habitus pengguna jalan.

Maka, harus diakui, berkendara di atas jalan raya kota Medan saat ini sangatlah beresiko. Sebuah resiko yang jelas tak kecil, karena taruhannya adalah nyawa. Dalam konteks ini, resiko merupakan kemungkinan-kemungkinan kerusakan fisik (termasuk mental dan sosial) yang disebabkan oleh proses teknologi dan proses-proses lainnya, seperti proses sosial, politik, komunikasi, seksual. Dengan demikian, resiko mempunyai hubungan sangat erat dengan sistem, model, dan proses perubahan di dalam sebuah masyarakat (industrialisasi, modernisasi, pembangunan), yang akan menentukan tingkat risiko yang akan dihadapi oleh masyarakat itu.[9] 

Lantas, jalan raya kota Medan, saya kira, tak berlebihan dipandang sebagai potret masyarakat beresiko (the risk of society)–resiko yang terbentuk di suatu ruang bernama jalan raya, di mana setiap habitus pengguna jalan saling bertemu. Konsekuensi yang muncul dari resiko-resiko ini tentu disebabkan oleh beberapa elemen yang keliru dalam desain besar modernisme dan kesalahan operator yang menjalankannya. Elemen-elemen yang keliru itu, barangkali, adalah melemahnya segi-segi moral, seperti keangkuhan manusia sebagai subyek dan kerakusannya. Jika dalam modernisme klasik yang menjadi isu sentral adalah persoalan kesejahteraan, yaitu bagaimana proses distribusi kesejahteraan dilakukan secara adil dan merata, maka dalam modernisme dalam bentuknya yang baru, isu sentralnya adalah keamanan.[11]

Layanan dan Keteladanan Pemimpin

Dalam tulisan ini, saya mendiskusikan apa-apa saja yang mendorong pengguna jalan raya di Medan berperilaku (habitus) serampangan. Saya mengidentifikasi setidaknya dua hal: pertama, mudahnya akses mendapatkan kendaraan pribadi. Kedua, tidak adanya transportasi umum yang memadai. Ini berimplikasi pada terbentuknya masyarakat beresiko di jalan raya kota Medan. Motor beradu cepat, serobot sana-sini mencari celah sempit agar sesegera mungkin mendekati tenggat waktu. Mobil harus berhati-hati agar tidak melukai motor. Kendaraan umum saling mendahului atau ngetem untuk memperebutkan penumpang.

Keluh dan kesah soal realitas persoalan jalan raya di Medan, sampai detik ini, masih sangat santer terdengar dan diributkan banyak pihak–untuk tidak mengatakan bahwa resiko-resikonya kian mengancam. Bagaimana tidak, di jalan raya orang-orang sudah tidak punya toleransi dan ingin menang sendiri. Karena alasan buru-buru, dikejar waktu khas masyarakat modern yang super sibuk atau apa pun itu, mereka menunjukkan perilaku-perilaku kadut yang mengherankan: saling sikut, caci-maki, menekan klakson berulang-ulang, hingga menerobos lampu setopan dan marka jalan. 

Maka, untuk memecahkan persoalan bersama ini, mutlak diperlukan kerjasama dari bermacam pihak. Negara dituntut mampu memenuhi kewajibannya menyediakan transportasi umum yang aman buat warga kota. Untuk warga kota sendiri, kesadaran yang bijak saat berkendara merupakan kunci untuk memecahkan masalah. Para pengguna jalan–baik yang miskin hingga yang kaya, yang tak berpendidikan hingga berpendidikan, yang lemah hingga berkuasa, yang kurang beriman hingga sangat beriman—dituntut memiliki pemahaman bahwa ihwal jalan raya sesungguhnya berkaitan dengan kepentingan publik, kepentingan banyak orang. Dengan menggunakan akal sehat, semestinya tidaklah sulit memilih tindakan yang tidak merugikan orang lain di jalan raya. Disiplin berkendara adalah contoh terbaik terkait upaya mewujudkan jalan raya kota Medan yang lebih aman. Jika sudah dimulai, upaya mereplikasinya di berbagaibahkan di seluruh—jalan raya Kota Medan bukanlah sesuatu yang utopia.

Jika Guru Patimpus yang dikenal sebagai pendiri kota Medan masih hidup, mungkin beliau akan terperangah menyaksikan perkembangan luar biasa dari “kampoeng” yang dibukanya 430 tahun lalu ini. Semula hanya dihuni oleh puluhan sanaknya, “kampoeng” itu kini menjadi sebuah negeri seluas lebih kurang 26.510 hektar dan dimukimi lebih dari 2.9 juta jiwa. Barangkali Guru Patimpus akan semakin terperangah, dengan mulut menganga pula, melihat jutaan jiwa itu tumpah–jagoan-jagoan kadut yang saling mengobral nyawa satu sama lain di jalan raya. Pengguna jalan raya yang serampangan tentu berkontribusi terhadap kondisi jalan raya yang tidak kondusif, namun negara jelas memiliki kuasa dan kewajiban yang lebih besar untuk memastikan warganya dapat beraktivitas di jalan raya dengan aman. Karena itu, negara dalam hal ini harus berkelakuan laiknya pemimpin. Negara harus mampu memberikan layanan terbaik bagi kebutuhan moda transportasi warga serta menjadi teladan pula dalam berkendara di jalan raya. Dengan begitu, warga kota akan berterima kasih dan percaya bahwa kebijakan negara adalah kebaikan buat semua.


[1] Seperti kata Doreen Lee, barangkali pengguna jalan yang mengambil jalan ‘pintas’ merasakan sensasi tertentu. “… taking a shortcut can give a thrill—a kind of stroom or electrical short circuit.” Lihat Doreen Lee, “Absolute Traffic: Infrastructural Aptitude in Urban Indonesia,” International Journal of Urban and Regional Research 39, 2 (2015): 234–50.

[2] Hani Raihana, “Negara di Persimpangan Jalan Kampusku”, Impulse, 2007.

[3] Pip Jones, Liz Bradbury, Shaun Le Boutillier, “Pengantar Teori-Teori Sosial dari Teori Fungsionalisme hingga Post-Modernisme”, Yayasan Obor Indonesia, 2009.

[4] Pierre Bourdieu, “Distinction: A social critique of the judgement of taste”, Routledge, 2013.

[5] Bagus Takwin, “Perlengkapan dan Kerangka Panduan Gaya Hidup”, dalam Adlin Alfathri, Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas, Jalasutra, 2006, hal 47-48.

[6] ibid.

[7] Berna Yazıcı, “Towards an Anthropology of Traffic: A Ride Through Class Hierarchies on Istanbul’s Roadways,” Ethnos: Journal of Anthropology 78, 2 (2013): 515–542.

[8] https://www.beritasatu.com/nasional/529894/tahun-2018-1916-tewas-akibat-lakalantas-di-sumut

[9] Ulrich Beck, “Risk Society: Toward a New Modernity”, Sage Publication, 1992.

[10] Brian Larkin, “Signal and Noise: Media, Infrastructure and Urban Culture in Nigeria”, Duke University Press, 2008.

[11] Kamil Alfi Arifin, “Jalan Raya Yogyakarta: Potret Masyarakat Beresiko,” Pranala, 5 (2015): 36-42.

Penulis:

Harits Naufal Arrazie, mahasiswa S1 Antropologi Budaya 2017.