The Guys Fly Economy: Mengupas Dikriminasi dan Ekspektasi Gender Pada Model Laki-Laki

Foto: Adriano B./MORANTE Collection

“…while the top female models fly first class or business class, the guys fly economy.” Kalimat barusan datang dari David Gandy, model laki-laki top dunia dengan penghasilan terbesar kedua pada tahun 2013 versi Forbes, ketika berbicara mengenai lika-liku pekerjaannya sebagai model laki-laki. Selain terdengar menggelitik, ungkapan tersebut juga dalam banyak hal mencerminkan hal-hal tidak mengenakkan di balik layar industri modeling yang selalu terkesan glamor dan mewah.

Ungkapan Gandy menyiratkan adanya diskriminasi terhadap model laki-laki, dan itulah yang membuat diskursus ini menjadi unik. Di berbagai lapisan kehidupan, secara struktutal perempuan seringkali menerima perlakuan tidak adil dan diskriminatif dari berbagai kalangan. Namun, menariknya, di industri mode dan modeling yang terjadi justru sebaliknya. Dunia mode yang melekat erat dengan perempuan membuat keberadaan model laki-laki seperti makhluk gaib yang ada namun tidak terlihat.

Mudah bagi siapa saja menyebut model perempuan dengan nama tenar dan karir cemerlang, seperti Gisele Bundchen dan Kate Moss, tapi tidak dengan model laki-laki. Model sekelas David Gandy dan Sean O’Pry yang selama beberapa tahun terakhir menduduki peringkat sebagai model berpenghasilan tertinggi namanya masih asing di telinga masyarakat luas. Padahal sejak tahun 2014, dikatakan bahwa mode pria mengalami perkembangan jauh lebih pesat dan kuat dari tahun-tahun sebelumnya, yang secara langsung turut menaikkan pamor model laki-laki. Pada kenyataannya, tetap saja mereka tidak dapat menjadi ‘setara’ dengan model-model perempuan.

Perlakuan dan Gaji

Perbedaan yang cukup mencolok antara model laki-laki dan perempuan tidak hanya ada pada pamor yang timpang di mata publik. Hal tersebut hanya merupakan puncak gunung es dari segala ketidakadilan yang terjadi di dalamnya. Di lapangan, model laki-laki banyak mengalami diskriminasi semata-mata karena mereka berjenis kelamin laki-laki, contohnya seperti yang diutarakan oleh seorang model laki-laki, Sam Barraclough, pada laman Racked, “I just came from a casting for Reiss, where the girls were sitting in a special room and I had to sit in the middle of an office.” David Gandy mengamini dalam wawancara berbeda dengan berkomentar, “In the hierarchy of a shoot, you have the photographer, the female model, the stylists, the assistants, then the male model. You are the lowest of the low.”

Pada taraf yang lebih serius, ketidaksetaraan gender di dunia mode dan modeling turut berimbas pada penghasilan yang didapat. Sama seperti perbedaan perlakuan yang diberikan kepada model laki-laki, berbagai pihak juga secara terang-terangan berbicara mengenai masalah finansial ini. Malah, informasi mengenai penghasilan dapat lebih mudah didapatkan dibanding informasi mengenai perlakuan yang diterima. BBC, contohnya, pernah membuat laporan pada 2016 yang mengungkapkan bahwa model laki-laki berpenghasilan 75% lebih rendah dibanding model perempuan.

Matthew Rettenmund, yang merupakan seorang blogger, pernah mengatakan pada Racked, “Those doing the paying will point out that the real money in fashion is from women, so therefore female models are more in demand.” Padahal, pada laman Huffingtonpost di tahun 2017, Frederic Godart yang merupakan seorang sosiolog spesialis mode mengatakan bahwa mode perempuan dan laki-laki secara kasar memiliki pendapatan yang sama yaitu 30 milyar USD.

Pada peragaan busana brand-brand ternama, model perempuan bisa mendapatkan sampai £40,000 per pertunjukan sementara model laki-laki rata-rata hanya mendapatkan £10,000. Di sisi lain, model perempuan banyak memiliki kontrak eksklusif dengan brand-brand kelas dunia dengan nilai yang fantastis, sementara model laki-laki biasanya hanya tampil dalam brand campaign sebagai bintang tidak tetap. Untuk bayaran jangan lagi ditanya, sama seperti di peragaan busana, model laki-laki biasanya dibayar empat kali lebih rendah dibanding model perempuan. David Gandy pernah menuturkan, “A part of me does think, ‘Why is this? What can I do about it? Why is it that the female models get paid four times as much as a male model for a campaign—a campaign they are both in.”

Puncaknya, perbandingan antara penghasilan yang didapat oleh model laki-laki dan perempuan tersorot media secara besar-besaran pada tahun 2014. Forbes mencatat pada 2013 Sean O’Pry berpenghasilan tahunan kira-kira 1,5 juta USD yang membuatnya menjadi model laki-laki berpenghasilan tertinggi di dunia, disusul oleh David Gandy di posisi kedua dengan pendapatan tahunan kira-kira 1,4 juta USD. Memang sangat besar, namun penghasilan keduanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan model-model perempuan berpenghasilan tertinggi. Di tahun yang sama, Gisele Bundchen di posisi pertama berpenghasilan tahunan kira-kira 42 juta USD dan Miranda Kerr dengan 7,2 juta USD di posisi kedua. Lucunya, ketika daftar model perempuan dengan penghasilan tertinggi masih dirilis setiap tahunnya oleh Forbes, daftar model laki-laki berhenti pada tahun 2013.

Imaji Maskulinitas

Mengapa, pertama-tama, fenomena ini dapat terjadi? Dalam dunia yang sudah mampat dengan perlakuan diskriminatif terhadap perempuan, diskursus ini menjadi menarik karena ia seakan menjadi anomali. Kita sudah seringkali mendengar ketimpangan gaji untuk pekerja laki-laki dan perempuan, dalam industri perfilman (yang dalam banyak hal begitu dekat dengan industri modeling) misalnya, namun baru dalam industri modeling-lah kita menemukan fakta yang berbeda.

Tentu saja ada banyak faktor yang berkontribusi dalam terbentuknya ekosistem yang mengizinkan fenomena ini terjadi, salah satunya yang paling kentara adalah model perempuan memiliki jauh lebih banyak bidang untuk digeluti dibanding laki-laki, seperti lingerie dan kosmetik, juga high fashion yang jenisnya jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Sean O’Pry pada Forbes mengungkapkan “they (male models) don’t have the opportunities to gain wide-scale exposure that Victoria’s Secret or a major cosmetics campaign offer female models.”

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa peran gender yang entah sejak kapan bersemayam di dalam keseharian kita menjadi salah satu alasan terbesar yang mendasari permasalahan ini. Pekerjaan model yang dianggap “hanya” membutuhkan modal fisik, bahkan sejak bentuk-bentuk awalnya dalam industri periklanan atau advertising, memang lekat dikaitkan dengan perempuan—yang, lagi-lagi, dalam banyak hal dianggap sebagai sekadar obyek yang dapat dijual dan dinikmati.

Laki-laki, di sisi lain, mendapatkan tuntutan dari masyarakat untuk mengerahkan kemampuan berpikir kognitif dalam bekerja. Dengan pola berpikir seperti ini, tidaklah mengherankan apabila model laki-laki sangat sulit berkembang dan cenderung diremehkan karena modeling yang dianggap bermodalkan fisik bukanlah ranah dari laki-laki yang “seharusnya” menggunakan otaknya. Sama seperti perempuan yang dianggap tidak mumpuni dalam bidang teknik, misalnya, laki-laki juga dianggap “tidak pada tempatnya” dalam industri modeling. Sekalipun laki-laki masuk ke dalam industri mode, mereka akan memiliki nilai lebih jika menjadi desainer atau direktur kreatif karena kedua profesi ini dianggap membutuhkan kemampuan berpikir. Semua ini terjadi karena masyarakat kita memiliki imaji mengenai maskulinitas yang spesifik bagi laki-laki.

Ini juga yang menjadi alasan mengapa peran model laki-laki biasanya tergantikan oleh atlet dan aktor terkenal. Sebut saja David Beckham, Christiano Ronaldo, Jude Law, dan James Franco yang entah sudah berapa kali terlihat membintangi iklan maupun menjadi wajah dari suatu brand mode. Nama besar yang sudah mereka miliki dan penampilan fisik di atas rata-rata tentu dapat dimanfaatkan dengan baik untuk menjual produk, namun selain itu masyarakat juga sudah melihat mereka memeragakan imaji maskulinitas yang dipahami bersama (dalam berakting dan olahraga, misalnya) sehingga mereka mendapat pengakuan yang jauh lebih besar daripada model laki-laki belaka.

Lebih lanjut, hadirnya model laki-laki dalam industri yang dianggap bukan tempat mereka ini juga menjadi dasar masyarakat menganggap mereka memiliki orientasi seksual gay. Tentu menggelikan ketika menyadari bahwa masyarakat kita amat tidak terbiasa melihat laki-laki yang luwes dan nyaman dengan tubuhnya sendiri, sehingga keberadaannya menjadi justifikasi bahwa mereka memiliki orientasi seksual yang berbeda dari norma yang secara umum berlaku—lagipula, bukan sesuatu yang salah juga jika betul mereka adalah gay. Namun karena dianggap “menyimpang” inilah, beberapa kalangan, terutama mereka yang amat konservatif, semakin memandang model laki-laki dengan sebelah mata.

Tidak Ada yang Selamat dari Ekspektasi Gender

Seperti yang sudah disinggung di bagian sebelumnya, imaji mengenai maskulinitas yang dibebankan kepada model laki-laki telah membuat mereka menjadi “warga kelas dua” di dalam dunia modeling dan di antara sesama laki-laki sendiri. Model laki-laki seakan hanya pelengkap dari model perempuan, sehingga keberadaannya ada dan tiada. Hal ini pula yang membuat model laki-laki berada pada tangga terbawah hierarki set pemotretan, the lowest of the low—seperti yang David Gandy katakan, karena perannya bukan sebagai bahan pokok, namun sebagai pelengkap.

Penting untuk mengingat bahwa walaupun rawan berpotensi menjadi pembenaran atas argumentasi diskriminasi terbalik (reverse discrimination), tulisan ini tidak ditujukan untuk menyalahkan perempuan–yang secara struktural sudah menerima perlakuan diskriminatif selama berabad-abad–atau siapapun. Lebih penting lagi, tulisan ini ditujukan untuk menyadari bahwa peran dan ekspektasi yang ditempatkan masyarakat pada perempuan, laki-laki, dan segala sesuatu yang ada di dalam spektrum gender telah menyakiti kita semua, dan mungkin sudah saatnya bagi kita untuk mulai mengevaluasi kembali apa yang salah dan harus dibenahi dari masyarakat kita.[]

Referensi

  1. Aveline, Mikey. 2016. “Top modelling agent says male models ‘suffer big pay gap’ compared to women.” BBC Newsbeat. Diakses pada 7 Desember 2018. http://www.bbc.co.uk/newsbeat/article/37456449/top-modelling-agent-says-male-models-suffer-big-pay-gap-compared-to-women
  2. Effron, Lauren. 2013. “Why Do Female Models Make More Than Male Models?” ABC News. Diakses pada 7 Desember 2018. https://abcnews.go.com/Business/female-models-make-male-models/story?id=20534067
  3. Huffpost Canada. 2017. “Female Models Are Paid More Than Male Models, Because Mode.” Diakses pada 7 Desember 2018. https://www.huffingtonpost.ca/2017/06/19/female-models-paid-more_n_17206552.html
  4. Lieber, Chavie. 2014. “Is It True That Male Models Get No Respect?” Racked. Diakses pada 7 Desember 2018. https://www.racked.com/2014/2/12/7618915/are-male-super-models-about-to-happen
  5. Tanvir, Farhan. 2018. “What is the ratio of a male to female models in commercial photography?” Quora. Diakses pada 7 Desember 2018. https://www.quora.com/What-is-the-ratio-of-a-male-to-female-models-in-commercial-photography

Penulis

Ilona Cecilia. Mahasiswa Antropologi Budaya UGM 2017.