Menyusuri Kampoeng Ketandan: Tentang Akulturasi, Identitas, dan Romantisme Masa Lalu

Gapura Kampoeng Ketandan dari sisi barat Malioboro.

Sabtu, 18 Mei 2019 saya terbawa rasa penasaran dengan sebuah kawasan yang digadang-gadang menjadi saksi persebaran Tionghoa di Yogyakarta. Derap langkah kaki terhenti pada sebuah gapura megah bertuliskan Kampoeng Ketandan dengan warna hijau dan merah yang eksentrik, serta rangkaian aksara Jawa dan Cina yang terpampang. Beragam simbol yang sarat akan filosofi Tionghoa, seperti naga dan singa, seakan dilindungi oleh atap yang bergaya layaknya klenteng serta simbol Keraton Yogyakarta di atasnya. Tidak hanya soal akulturasi, namun semuanya seakan bercerita tentang suatu keberagaman yang tumbuh secara berdampingan antara warga Tionghoa dan Jawa di tanah Yogyakarta.

Sebuah toko kelontong tua di persimpangan jalan.

Menyusuri jalan-jalan kecil di Ketandan seakan membawa saya pada sebuah lorong waktu, memasuki masa-masa kampung pecinan ini berjaya dengan hiruk pikuk aktivitas dagangnya. Mata pun tertuju pada barisan toko emas, toko kelontong, pangkas rambut, sampai warung makan yang mampu bertahan. Deretan tembok dan bangunan tua seakan berbisik tentang kisah panjang kawasan Ketandan yang menjadi saksi sejarah kehidupan warga Tionghoa di Yogyakarta. Menurut Putri (2019), suku Hokkian-lah yang paling banyak bermigrasi ke wilayah Yogyakarta karena letaknya yang dekat dengan pelabuhan. Sejak awal, Sultan Hamengkubuwono I memang memiliki perhatian terhadap komunitas ini. Ketika masa kolonial Belanda, dikeluarkan sebuah peraturan kerajaan (Rijksblad) nomer 4 tahun 1867 yang menjadikan Ketandan sebagai salah satu distrik resmi bagi warga Tionghoa serta pusat perekonomian untuk memudahkan pengawasannya. Atas kelebihannya dalam berinteraksi dengan warga lokal, pejabat Belanda pun memberikan hak istimewa.

Sebuah patung kapiten Tionghoa yang disimbolkan dengan sebuah hewan anjing, layaknya shio orang Tionghoa

Menurut Wijanarko (2019), eksistensi Ketandan tidak luput dengan kehadiran seorang tokoh bernama Tan Jin Sing. Ia merupakan kapiten Cina yang membawa pengaruh besar bagi keraton karena kemampuan diplomasinya yang sangat baik, sehingga ia diberi gelar KRT Setjadiningrat dengan menyandang predikat bupati. Ia diberi tugas sebagai penarik pajak rakyat dan diberikan sebidang tanah di kawasan Ketandan sekarang yang nantinya berkembang menjadi sebuah permukiman. Hal tersebut selaras dengan asal nama Ketandan yang berasal dari kata tondo atau penarik pajak. Awalnya kawasan ini memang diramaikan oleh toko kelontong atau kebutuhan pokok, namun sejak tahun 1950an toko emas menjadi primadona banyak pedagang karena dianggap menjanjikan. Salah satu ikon kawasan tersebut ialah bekas rumah Tan Jin Sing sendiri yang terletak di antara toko emas Ketandan. Bangunan yang berusia lebih dari 250 tahun tersebut mampu bertahan dengan akulturasi arsitektur Jawa, Cina dan Eropa yang ditonjolkan. Sekarang ini, rumah tersebut difungsikan sebagai Rumah Budaya Tionghoa dan tempat penyimpanan boneka wayang Potehi. 

Mural di depan sebuah toko yang dilengkapi dengan penanda dilarang parkir .

Ketandan kemudian mengalami dinamikanya sendiri ketika masa kolonialisme selesai. Pada masa Orde Baru, contohnya, Presiden Soeharto melarang masyarakat Tionghoa untuk mengekspresikan identitas kulturalnya karena dianggap “sebagai bentuk afinitas (persamaan, ketertarikan) kultural masyarakat Tionghoa terhadap negeri asal dan dapat menjadi penghambat asimiliasi budaya” (Juningsih, 2015). Inpres Nomor 14 Tahun 1967 ini memengaruhi semua masyarakat Tionghoa di Indonesia, termasuk mereka yang menetap di Yogyakarta. Barulah pada saat masa pemerintahan Gus Dur, peraturan ini diberhentikan dan masyarakat Tionghoa kembali mendapatkan hak mereka untuk mengekpresikan identitas kultural sebebas-bebasnya (Juningsih, 2015). Sebagai contoh, warga Ketandan kemudian mempertahankan dinamika dan jati dirinya sebagai permukiman Tionghoa dengan mengadakan festival kebudayaan untuk menyambut Tahun Baru Cina tiap tahunnya.

Sebuah patung Pixiu atau representasi dari hewan singa dalam tafsir orang Tionghoa sebagai tanda selamat datang pada gerbang utama .

Bicara mengenai Ketandan rasanya tidak pernah cukup, bahkan selalu ada cerita baru yang layak untuk dibagikan. Kawasan yang sekarang dikenal sebagai cagar budaya ini memang menjadi pusat meleburnya budaya Tionghoa dan Jawa di masa lalu, meski sekarang Ketandan tidak seramai dahulu dan penyebaran para pecinan telah tumbuh pesat di berbagai tempat. Di masa kini, sisa pemukiman Tionghoa sudah tidak dapat kita temukan lagi, hanya segelintir orang saja yang mampu bertahan dan kebanyakan memang juragan toko emas. Malahan, komposisi warganya telah dipenuhi para etnis Jawa yang kian mendominasi, seakan identitas pecinannya telah hilang. Fungsinya sebagai objek wisata memang lebih menonjol ketimbang pemukiman. Beragam bangunan yang telah dipugar pun tampak hanya seperti fasad yang mengisi wajah jalan tanpa benar-benar dihuni. Mungkin saja, hal tersebut merupakan usaha pemerintah untuk menghadirkan sebuah potret keragaman Tionghoa untuk menunjukan jati diri Yogyakarta sebagai kota toleransi. Ketandan sebenarnya memiliki beragam potensi yang jauh lebih besar dibanding sebatas cagar budaya semata untuk dikembangkan, meski sisa kejayaan di masa lalu hanya tinggal cerita.[]

Referensi:

1. Putri, R. (2019). Catatan Pertama Kedatangan Orang Tionghoa ke Nusantara. [online] Historia – Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. Available at: https://historia.id/kuno/articles/catatan-pertama-kedatangan-orang-tionghoa-ke-nusantara-v5Eg3 [Accessed 28 Sep. 2019].

2. Wijanarko, T. (2019). Sejarah Tumbuhnya Kampung Ketandan Menjadi Pecinan di Yogyakarta. [online] Tempo. Available at: https://travel.tempo.co/read/1063291/sejarah-tumbuhnya-kampung-ketandan-menjadi-pecinan-di-yogyakarta [Accessed 28 Sep. 2019].

3. Juningsih, L. (2015). Multikulturalisme Di Yogyakarta dalam Perspektif Sejarah. In Prosiding Seminar Dies Natalis Fakultas Sastra, USD ke-22, Pergulatan Multikulturalisme di Yogyakarta dalam Perspektif Bahasa, Sastra, dan Sejarah (pp. 1-11).

Penulis

Raditya Baswara Anindito. Mahasiswa Antropologi Budaya UGM 2018.