Mengulik Lipstik: Perlawanan, Kepercayaan Diri, dan Bentuk Resiliensi

Ilustrasi: The Walrus

Lipstik—siapa yang tidak kenal produk kosmetik yang satu ini? Barang yang lekat diasosiasikan dengan kaum hawa ini tentu begitu akrab di telinga orang-orang, bahkan bagi mereka yang tidak familiar menggunakannya. Lipstik bisa saja sudah dianggap seperti “sahabat karib” dalam urusan dandan. Apalagi sekarang pilihan warna lipstik sudah tak terhitung banyaknya, mulai dari yang berwarna merah darah hingga hitam arang semua tersedia di pasaran. Tidak heran, lipstik menjadi salah satu “item wajib” dalam kotak rias para wanita.

Bicara soal lipstik tentu tak bisa lepas dari sejarah penggunaannya yang panjang. Bentuk awal dari lipstik pertama kali muncul pada sekitar tahun 3500 SM di Sumeria Kuno, dan sejak saat itu terus mengalami reproduksi makna dan kegunaan dari masa ke masa.  Pada peradaban Sumeria kuno, lipstik diagung-agungkan sehingga menjadi salah satu bekal wajib bagi si mati. Pada jaman pertengahan, wanita harus sembunyi-sembunyi jika ingin membeli lipstik—tidak jauh berbeda dengan orang yang bertransaksi dengan drug dealer. Yang menarik, saya menemukan suatu periode dimana lipstik dijadikan simbol perlawanan perempuan dalam perang. Namun, lipstik sebagai simbolisasi perjuangan perempuan tidak hanya berhenti di sana. Dalam perkembangannya kemudian, lipstik menjadi simbol perlawanan perempuan atas patriarki yang “menindas” mereka selama ini, alias simbol perjuangan gerakan feminisme.

Lipstik sebagai lambang gerakan feminisme tepatnya dimulai pada era 90-an atau feminisme gelombang ketiga. Feminisme gelombang ketiga ditandai dengan dibangkitkannya kembali simbol-simbol feminin wanita seperti make up dan gaun. Pada gelombang ini kaum feminis mencoba mengatakan bahwa untuk menjadi sejajar dengan pria, wanita tidak perlu menanggalkan identitas kewanitaannya dan berpenampilan seperti pria. Penggunaan kembali make up dan gaun tersebut diharapkan dapat merepresentasikan kesetaraan perempuan dan laki-laki dengan segala femininitas yang melekat pada perempuan.

Berangkat dari ulasan-ulasan tersebut, mungkin terbersit dalam benak kita bahwa hal sesederhana lipstik bisa memiliki pengaruh yang begitu besar. Pasti ada alasan kenapa sebatang pewarna untuk bibir tersebut sampai menjadi lambang salah satu pergerakan masif kaum perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya. Selanjutnya saya menemukan kembali artikel menarik terkait lipstik. Penelitian yang dilakukan para ahli dari Universitas Harvard, USA berkolaborasi dengan University of Chieti di Italia menemukan sebuah fenomena psikologis dimana penggunaan make up dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang dan membuat mereka merasa atraktif. Fenomena psikologis tersebut dikenal sebagai “lipstick effect”. Selain meningkatkan percaya diri, lipstik juga ditemukan dapat meningkatkan kemampuan kognitif. Hal ini disebabkan karena dengan menggunakan lipstik dapat menumbuhkan emosi positif yang mana berdampak pada performa akademik. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017 terhadap 186 responden dengan tingkat pendidikan S1.

Tidak cukup dengan satu penelitian, saya dan kelompok menggali kembali mengenai lipstik dan hubungannya dengan rasa percaya diri pada wanita. Dalam penelitian yang dilakukan di Sao Paulo yang melibatkan 31 orang responden berupa wanita usia 25 hingga 41 tahun. Responden diminta untuk mengaplikasikan lipstik berwarna merah kemudian diamati menggunakan Facial Expression Analysis Software. Melalui penelitian ini terlihat perubahan ekpresi wajah positif secara bertahap pada responden setelah mengaplikasikan lipstik pada bibirnya.

Implementasi dari hasil penelitian tersebut dapat dilihat dari acara Make Up Class untuk kaum difabel. Acara ini dilakukan pada tanggal 16 September 2018 di Jakarta Selatan oleh seorang beauty vlogger difabel bernama Laninka Siamiyono. Acara ini diawali dengan membagikan 1.000 lipstik pada teman-teman difabel. Melalui acara ini Laninka ingin menyampaikan pesan bahwa siapapun dapat tampil cantik sehingga mampu meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Tidak cukup hanya berdasarkan landasan teori diatas, kami kemudian membuat penelitian kecil-kecilan terkait lipstik dan kepercayaan diri wanita. Waktu itu saya dan teman sekelompok menghubungi 12 orang narasumber yang semuanya merupakan mahasiswi aktif Fakultas Ilmu Budaya UGM dari berbagai angkataan dan prodi. Pertama, kami memilih narasumber yang mengenakan lipstik. Kedua, kami juga mengambil sudut pandang dari mereka yang tidak mengenakan lipstik. Dari 12 narasumber kami menemukan dua kubu pendapat yaitu kubu mahasiswi yang setuju bahwa penggunaan lipstik dapat meningkatkan percaya diri dan ada yang tidak setuju.

Dari 12 narasumber yang kami wawancarai, kami mendapatkan hasil bahwa sembilan dari 12 mahasiswi tersebut setuju bahwa lipstik memang memiliki pengaruh dalam peningkatan kepercayaan diri mereka. Pengaruh yang diberikan oleh lipstik pada para mahasiswi bermacam-macam. Mulai dari yang sudah sisterhood tak terpisahkan dengan lipstik hingga ke yang netral. Salah satu narasumber kami bahkan menyatakan bahwa dengan menggunakan lipstik ia jadi lebih percaya diri ketika harus bicara di depan umum.

Namun, kami tidak bisa menutup mata atas pendapat para mahasiswi yang netral tersebut. Pasalnya, salah satu narasumber yang masuk ke dalam kategori ini menyatakan pendapat yang sungguh membangun bahwa memang benar ketika menggunakan lipstik ia jadi merasa lebih percaya diri, tapi ia tidak selalu membutuhkan pulasan pewarna bibir untuk mempertahankan kepercayaan dirinya. Tanpa atau dengan lipstik, narasumber kami ini menyatakan ia akan tetap merasa bold.

Setelah melakukan penelitian kecil-kecilan, saya merefleksikan hasilnya pada diri dan menemukan bahwa lipstik sedikit banyak berpengaruh pada kepercayaan diri saya. Ketika saya memasuki bangku SMK, saya mulai tertarik menggunakan lipstik. Waktu itu saya masih memilih untuk menggunakan lipstik yang warnanya tidak terlalu kentara. Hingga saya memasuki bangku kuliah, saya mulai berani bereksperimen dengan penampilan saya termasuk soal make up, khususnya lipstik. Bahkan, untuk menguatkan hasil penelitian saya dan kelompok, kami sepakat menggunakan lipstik terbaik kami ketika presentasi hasil penelitian di kelas. Sedikit banyak, saya merasa lebih percaya diri ketika mengenakan lipstik apalagi ketika harus berhadapan dengan kerumunan orang banyak.

Hasil penelitian kecil-kecilan ini tentu saja masih memerlukan analisis lebih dalam dan belum bisa mewakili pandangan seluruh mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UGM terkait lipstik. Tapi setidaknya melalui kegiatan penelitian ini pandangan kami terbuka sedikit lebih luas lagi, sebab hal sesederhana lipstik pun ternyata menyimpan berbagai cerita menarik apabila diulik lebih dalam. Dari menjadi bekal orang mati hingga simbol pergerakan feminisme, lipstik dan maknanya yang terus bereproduksi telah ikut berperan membentuk persepsi manusia—khususnya wanita—mengenai perjuangan hak, kepercayaan diri, dan bentuk resiliensi.[]

Penulis

Ni Putu Dessy. Mahasiswa Antropologi Budaya 2018.